apalah arti menunggu 1

Sore itu, gerimis membasahi balkon kamarku. aku yang sedang berdiam menghirup bau tanah yang basah karena hujan tiba-tiba dikejutkan dengan kedatangan Romi. Dengan basah kuyup dia mengendarai motor Ninjanya. Tampan dan gagah, sungguh pria idaman. Aku memang menyukainya, tapi aku tak pernah sekalipun mengungkapkan perasaanku pada siapapun. Sungguh heran, mengapa dia datang saat gerimis pun berubah menjadi hujan yang cukup deras? Segera aku turun untuk menemuinya dibawah.

Setibanya dibawah, ku persilahkan dia masuk dan langsung dengan sigap ku beri dia handuk untuk mengeringkan badannya yang basah. Sembari dia mengeringkan badannya, aku memulai percakapan, "Hai, ada apa kau menemuiku hujan-hujan begini?" tanyaku. "Ada hal penting yang harus aku katakan padamu Rin" jawabnya yang membuat tanda tanya besar di kepalaku.
"Ada apa Rom?"
"Aku ingin jujur padamu Rin. Memang kita baru saja saling mengenal satu sama lain. Selama 3bulan ini aku merasakan hal yang berbeda padamu. Perasaanku lebih tepatnya."
"Kenapa dengan perasaanmu? Aku penasaran"
"Aku merasakan kebahagiaan yang benar-benar berbeda setelah mengenalmu. Aku tidak ingin menyimpan rasa ini lebih lama lagi. Aku sayang padamu. Aku ingin kamu jadi pacarku Rin."

Sontak aku kaget, tak sadar bahwa mulutku pun menganga mendengarnya. Ada angin apa dia mengatakan hal yang selama ini aku impikan? Oh Tuhan, sebenarnya aku senang sekali. Ingin rasanya aku melompat kegirangan, tapi itu tak mungkin ku lakukan didepan Romi hahaha
"Apa?? Kau tak sedang bergurau kan Rom? Secepat ini? Apa kau yakin?"
"Tidak! Aku tidak sedang bergurau Rin. Percayalah, karena aku rasakan kenyamanan yang berbeda saat aku sedang bersamamu. Entah mengapa hal itu bisa terjadi. Namun aku sangat yakin akan hal ini"
"Bagaimana caranya aku bisa mempercayaimu?"
"Entahlah, tapi aku merasa begitu yakin padamu, pada perasaan ini Rin", katanya sembari menggenggam tanganku.
"Jujur kukatakan, aku menyayangimu Rom. Selama ini aku hanya memendamnya sendiri. Aku ingin sekali menjadi orang spesial di sisimu, di hatimu. Tapi aku minta waktu untuk berpikir, jawaban apa yang harus aku berikan padamu."
"Baiklah, aku tak memaksamu menjawabnya saat ini. Aku tunggu jawabanmu, kapan pun itu." jawabnya lalu tersenyum manis padaku.

Hanya butuh beberapa jam saja bagiku untuk berpikir, apakah aku akan menjawab 'ya' atau 'tidak'. Dan semuanya telah aku pikirkan matang-matang beserta konsekuensinya nanti untukku. Malam itu pukul 22.00 WIB aku menghubunginya. Melalui telepon genggamku, aku berbicara panjang lebar padanya. Sebenarnya aku bisa menjawabnya dengan waktu singkat, tapi aku mengulurnya. Singkatnya, aku katakan 'ya' yang berarti aku menerimanya menjadi pacar/kekasih/pujaan hatiku. Kami senang, bahagia, sungguh tak dapat digambarkan betapa senang dan gembiranya aku.

Sejak saat itu, kami selalu menghabiskan hari-hari dengan tertawa, merindu, mengasihi bersama. Kami nikmati setiap waktu pertemuan yang ada. Menggunakan waktu luang bermain skype, atau hanya sekedar menelepon untuk melepas rindu. Memang, menurutku hal yang kami lakukan tak jauh berbeda dengan saat-saat kami dekat dulu, atau lebih tepatnya belum menjalin hubungan.

Hal yang paling kami benci adalah dimana saat pertemuan berakhir. Ya, tentunya kami harus berpisah demi masa depan. Hanya untuk sementara memang. Karna pasti akan ada pertemuan-pertemuan selanjutnya. Indah memang hari-hari yang aku jalani bersamanya. Dari hal yang menurutku paling tidak penting, kami bisa melakukannya penuh tawa, hanya demi memenuhi hasrat melepas rindu. Sungguh bahagianya seakan tiada hari tanpa memikirkannya, merindukannya. Tuhan...anugerah-Mu sungguh indah. Betapa bahagianya aku menerimanya :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berat Rasa

Aku Menulis Seperti Angin Berhembus Di Telinga

Kosong