Postingan

Menampilkan postingan dengan label puisi

sembilan (2013-2022)

terduduk menatap hamparan pasir putih tertiup hembus kenangan rapih  katanya, "akan selalu ada ruang khusus bagi masa lalu"  dan ya, bagaimana pun, sepatah apa pun,  meski telah berlalu,  kisahnya singgah selalu  seperti kisah yang ada di novel rindu seperti sajak yang ada di puisi sendu  kini, lukanya sembuh  kisah yang sendu, akan selalu menjadi inspirasi baru -Pena Biru-

Aku Menulis Seperti Angin Berhembus Di Telinga

Aku menulis, seperti masuk ke dalam jurang aksara Dalam, hingga sesak tenggorokan terasa Angin membawa hembus nafas kenangan memilukan Bersama kawan seperjuangan, mencari arti rasa dalam tiap aksara Aku menulis, hingga lelah menangis  Mengukir setiap senang dan sedih, yang kini senang pun menyedihkan  Tak dibersamai kawan seperjuangan adalah hampa Biasanya, berbagi cerita seperti obat, candu Aku menulis, apa-apa yang menyesakkan dan menyisakan di dalam dada Menjadi sok puitis adalah jalan ninja Padahal, pecah tangis benar-benar ada Terisak, sakit, bercerita pada angin yang kurasa menghadirkan sosoknya Aku menulis, menitipkan pesan Pada kawan yang jauh mencapai tujuan Menyedihkan diri mengapa miliki hati yang runyam, rapuh pada kenangan Mengaburkan rindu yang masih dan akan terus datang, pada kawan seperjuangan -Pena Biru- 21 Juli 2025

Berat Rasa

Berat... Meletakkan rindu di tenpat paling tersembunyi Kala terang ditutup riang Kala petang ditutup muram Berat... Mengantongi sekecil-kecilnya kenangan  Membawanya dengan hasrat ingin dimusnahkan Debur ombak mengusik, semakin kutelisik ternyata rindu membisik Berat... Mengurangi yang besar Membiasakan yang benar Melakoni yang sukar  Berat... Kepalaku berisik, buat semakin terusik  Ada tawa terbahak di pikiran Sendu melagu di telinga -Pena Biru-

Puan Si Penipu

Puan kebingungan pahami mau hati Ingin maju bohongi hati Mundur tak yakini  Seperti semesta tak restui  Hati runtuh bersama dengan mimpi Biar merindu terus membelenggu, pada hati yang berselimut semu Lepas biar tak terus menyakiti Puan si penipu, tengah menangis tersedu Paksakan lupa pada apa-apa yang lekat -Pena Biru-

Puan dan Waktu

Puan Pandai berkhayal, apa-apa dilamunkan  Sulit menyuka karena mencari yang seirama Sedikit melantunkan ayat-ayat  Diam, di sudut ruang gelap menjadi penghayat Waktu yang tepat adalah jawabnya  Puan terus menggerutu kala hujan Meneriaki bulir demi bulir airnya sampai bosan Lelah, merebah di atas dipan keras  Mulai menenangkan dengan menulis di secarik kertas Lagi-lagi ia temui Waktu yang tepat ialah jawaban pasti -Pena Biru- 

Bagian Penting Dalam Alur Cerita

Pada secarik kertas kutulis sedikit alur cerita Kau menahu tentang apa-apa yang kulangitkan Menahun sudah, kukira lapuk Nyatanya diterima karena terus dipupuk Kau menahu tentang apa-apa yang berantakan Kukira kan terus berceceran  Nyatanya ditata sebagaimana mestinya langsung dari Tuhan Betapa pilu bila ingat bahwa pentingnya seorang engkau dalam cerita Menuliskan apa-apa yang harusnya bisa tersampaikan Pada kenyataan yang diterima, hanya harap besar kau baca satu persatu hagia Bagiku berbagi ketenangan denganmu adalah kewajiban  Untuk alm.mas yi... Nyata atau tidaknya sosokmu akan selalu menjadi bagian penting dalam cerita 18 des 2023

Sang Pelukis Lara

     Suatu malam biru, masih hari itu yang melagu di kepalaku. Tak habis merindu, mengagumi hingga terpaksa menyudahi. Saling adalah hal ternyaman yang membuat jantung berdegup kencang. Saling merindu, saling mendamba, saling mengasihi, saling mengagumi.      Rasa tak menentu kala kudengar titipan rindu yang sengaja ditinggalkan. Kau titip satu untukku, agar selalu dan terus merindu. Teramat lucu, kau mengagumi dalam diam sekian waktu. Mengapa tak sedari dulu? Semua terasa terlambat, padahal kau ingat bagaimana, mengapa dan apa yang membuat kagum tercekat.         Ingat kembali, setiap hujan yang kita lewati. Setiap janji yang belum ditepati. Ya, seingatku kita tak pernah melakukan swafoto untuk mengabadikan kebersamaan. Entah, karena telalu malu atau melupa selalu karena setiap pertemuan diburu waktu. Sedikitpun tak terucap sesal. Karena selalu dan masih tersimpan rapi di memori kepala pun hati.     Sekian lama waktu berl...

Karena Kau Masih

Seminggu denganmu terasa sewindu Semua laku berputar menjadikan rindu Yang pernah kunanti hanya terjadi teramat singkat Apa-apa yang tak sempat terucap padamu, malah tersampaikan amat menggebu Meski sempat kaku, entah karena teramat rindu  atau begitu sendu pilu Detik itu tak terucap sesal Kembali merindu meski akan terabai sekali lagi Tapi tidak, detak itu masih sama Getar rasa, binar mata, diartikan tanpa bahasa  Yang disesali, hanya harus membenci kini Karena kau masih menjadi harap, namun cerita ini tak beratap Biar duduk sendiri menata hati Agar tersadar bahwa diantara kita hanya ilusi -PenaBiru- 29 Mei 2023

Seumur Hidup Terlalu Lama

Untuk setiap perdebatan sepele yang terjadi,  untuk setiap sikap sepele yang dilakukan... Adakah kesanggupan untuk menahan menahun? Letih hati dibuat sendiri Untuk apapun kesepelean di antara kita, apakah pernah kau berkaca? Sudah sejauh mana menyudahinya  Untuk segala kesepelean, aku lelah memendam dan menganggapnya tiada Bagiku berat, sepele yang menahun akan menggunung menjadi beban Dan bila harus melangkah maju, seumur hidup terlalu lama... -Pena Biru-

seri yang bawa nestapa

lihat aku menari-nari wajahku terus berseri  entah apa yang tengah menghinggapi  padahal aku bersama sepi lalu aku terjerembab pada kenyataan ada satu kemunafikan bermimpi pada ketidakpastian  berharap pada sebuah angan  ya aku hilang  pergi terbang bersama sayang  yang bukan untukmu akan tetap begitu  celah itu bukan untuk dibuka karena akan terus melahirkan nestapa

Mati Rasa

Tiada yang meminta Tiada yang berharap untuk patah Kuterbangun di ruang kosong Namun terasa lepas, bebas  Meliuk bagai tak bertulang Tersenyum tapi sedih Apakah ini waktunya berhenti membohongi diri? Ruang ini yang didamba Ternyata selepas ini Kita hanya manusia, Tuhan telah teramat baik Masing-masing diberi kesempatan mawas diri Rapuh, kalut, hagia, bebas Bukan sedih, bukan pula senang  Tubuh ini tak berdaya, seolah mati rasa -Pena Biru-

Padahal Sedikit Lagi Kita Bisa Saling Mencintai

Pada malam yang muram Kutitipkan sejuta pertanyaan  Mengapa ada rasa padahal tak miliki asa Mengapa menetap padahal tak ingin menjadi atap Disana ada sebuah ruang Sepetak kecil tempatku menyimpan semua angan Bersama ia yang selalu dikenang,  yang hingga kini pula menjadi angan Pernah rasakan ingin terbang  Tapi waktu selalu tak bisa membersamai Ragu menjadi sebuah penghalang  Pilu pabila asa menjadi hampa yang terabai Ada satu masa yang selalu ingin digapai Saling membersamai, saling jatuh hati  Namun entah mengapa sulit sekali  Padahal sedikit lagi, kita bisa saling mencintai -Pena Biru-

Jangan Dipaksa

lama sudah sepertinya tidak merasakan sakit yang sedalam ini nafasku tercekat, sulit menarik sedalam-dalamnya hembusan selalu dengan penuh paksa  saling menyakiti adalah sakit yang tak terdefinisi keputusan demi keputusan yang dibuat tidak bersama logika,  kini menghasilkan akhir yang pedih menyayangi saja tak cukup  jatuh cinta adalah syarat paling utama  jangan sampai ada hati tersiksa  jangan ada keterpaksaan yang buat merana sekali salah takkan bisa kembali jangan ambil resiko untuk pengabdian terpanjang seumur hidup jangan berjalan dengan keterpaksaan  -Pena Biru-

Tercekat

diam... hirup nafas sedalam-dalamnya  ternyata sulit, kutercekat  apa yang tengah dihempaskan ke dalam hati? sakit, namun apa? ego dalam kepala tak henti meraung lara hati terus mengaduh sepahit inikah? tak ada kata ringan pada perpisahan tapi tak pula mampu jelaskan  apa-apa yang tengah terjadi  seperti tercabik, terkoyak habislah sudah kesadaran ini  betapa kumengaduh, takkan ada jawab  sekeras apapun tangis, takkan ada kelegaan sekali lagi kutercekat -Pena Biru-

Si Pilu

Sendu melagu beberapa waktu Ragu mengalun merdu di telingaku Adakah kita di ujung sana bersama bahagia? Ataukah tak ada? Merapal segala harap agar tak saling menyakiti Mendoa segala asa agar yang terbaik bagi hati Maumu apa pun mauku? Sisakan satu kenyataan untuk si pilu Hentikan harapan yang mengalir deras  Tapi tak bisa  Lanjutkan tatanan dengan usaha keras Tapi tak mudah Ingin bulan tanpa membuang bintang Ingin cinta tanpa membuang sayang Masih dia dengan semua harap dan asa Namun seperti berton-ton batu menindih dada Berat -Pena Biru-

Aku Ini Bagaimana?

Aku adalah aku yang bagaimana? Entah... Menyelami diri sendiri pun aku tenggelam  Bagaimana, mengapa, apa Tak kunjung temui jawabnya  Sisi sebelah mana lagi yang kugali? Sedalam apa lagi harus kuselami? Memandang mataku sendiri sedalam itu saja tak kusanggupi Ingini pergi, tapi tak bernyali  Menapak ke depan tapi tak ingini Harus bertanya pada apa?  Ketika waktu tak kunjung berikan ketenangan  Ketika hidup harus menentukan pilihan  Aku ini bagaimana?  Akan kemana lagi mencari jawab pertanyaan? Tak ada, habislah sisa waktu untuk berpikir  Hati tak teguh Ucap meratap terus menerus hingga rapuh  -Pena Biru- 4 Oktober 2022

Mencintai Bayang-Bayang

Hai...  Berkali purnama berganti, akhirnya kutemui Dia yang pernah berjanji sehati  Nyatanya sepenuh hati pergi  Bagaimana rasanya sekian purnama tak bersua? Aku jelas, rindu Ya memang kau tak tahu, tak perlu  Seyakinnya hati, kau pun rindu  Sudahlah, jangan mengelak dunia paham itu Mengapa tak sedari dulu? Temui memecah rindu dan saling mengadu Kini aku diantara  Apakah mimpi atau nyata Mungkin kau tengah lelah berjuang Berjuang mencari yang sepertiku Sudah kukatakan, tak akan ada, tak akan pernah  Aku ya aku  Serupa mungkin, namun rasa seutuh-utuhnya hanya aku yang punya  Rindu sehebat-hebatnya hanya aku yang mampu Kecewa sedalam-dalamnya hanya aku yang bodoh  Benci sebenci-bencinya aku tak mampu  Menitipkan setiap sendu pada lagu  Mencari sosok pada ruang mimpi  Aku pernah mencintai bayang-bayang  -Pena Biru- 28 September 2022

Luka Yang Sabar

redam yang harus diredam sabar terlalu mudah diguratkan  mereka tak tahu apa-apa yang dipendam melawan amarah teramat menyakitkan tak ada yang peduli  aku pun tak ingin mereka tahui bahwasanya diri ini marah dalam lirih tersedu pada malam dalam mimpi ingin sekali mengoyak hati dicabik hingga musnah panas jiwa sungguh lidah tak bertulang melukai hati yang berhati-hati -Pena Biru- 24 Agustus 2022

Kusadari Kau Masih

Diri sudahkah kau mengerti? Mana dan apa yang kau ingini Datang dan pergi nampak tampan Seperti pangeran bermain peran Siapa kau? Semakin dekat dengan pertanyaan tetua  Kapan menikah? Mana ibu surimu? Sedangkan hati sulit terbuka Entah karma entah logika Rasanya sulit, teramat sulit Mungkin dia, yang kubuat luka Sesal tiada tara selalu melangit  Banyak yang ingin kuucap Tapi lidah kelu, gengsi selalu  Semua masih kuingat, kasih ingin kudekap Tawamu, caramu berbicara, suaramu, semua tentangmu  Ternyata semua membekas Jauh di dalam hati, degup jantungku masih ada kau Semua sama, tak ingin terampas  Kau yang masih mengagumkan bagiku 31 Juli 2022 -Pena Biru-

Dari Aku Yang Sembunyi

Kutahui ada luka mendalam Terkejut, bahwa nyatanya teramat dalam Sakitkah ini? Sungguh ingin kurengkuh dan akui  Apa-apa yang menyakitkan  Karena aku, karena ego Bukan maksud hati goreskan Hanya diri yang terlalu bodoh Andai mampu kuhapuskan waktu  Sungguh sesal, sesak, dan sesal Ada yang dengan sepenuh hati Mencinta, mengharap, mendoa  Tapi laki-laki tai ini malah pergi Menahun menelan karma  Menahun pula membisu dan membeku Ingin kumohonkan ampun Namun terlalu malu akan kebodohan menahun Aku menyakiti, aku sesali Ternyata ada yang setulus hati menanti Kini, tak ada yang bisa kulakukan Diri dan hati belum sempurnakan keinginan Akankah kuperjuangkan, atau kuikhlaskan Akankah kunantikan, atau kulepaskan 31 Juli 2022 -Pena Biru-