apalah arti menunggu 2
Satu bulan bersamanya sebagai sepasang kekasih pun terlewati penuh cinta dan kenangan indah. Romi, selalu menjadi lelaki terhebatku. Aku selalu membanggakannya didepan teman-temanku. Dia sungguh berbeda dari mantan kekasihku yang sebelum-sebelumnya. Aku bisa merasakan hal itu, karena aku yang menjalaninya. Di setiap sholatku, tak lupa setelah keluarga dan para sahabatku, aku juga menyebut nama Romi dalam doaku. Ku minta pada Tuhan, agar menjaganya, memberikan yang terbaik untuknya, menjaga hubungan kami.
Ya, selalu doa2 itu yang aku panjatkan. Apapun keadaannya, apapun statusnya, aku hanya ingin menjalin hubungan baik dengan Romi. Sekalipun hubungan itu menyakitkan bagiku. Banyak hal bodoh yang aku lakukan bersamanya. Mulai dari skype, tapi suaraku tak dapat didengar olehnya dan aku bisa mendengar suaranya. Hingga dia memutuskan untuk menelponku melalui handphonenya, agar kami bisa saling berbincang. Bertatap muka melalui skype. Hahaha hal itu memang bodoh.
Lalu pernah, sore hari aku dan dia pergi. Tak tahu kemana tujuan pergi. Hingga dia membawaku ke satu mall di kotaku. "Untuk apa kita kesini?", tanyaku. "Aku sendiri tak tahu. Mungkin saja ada hal menarik didalamnya haha" jawabnya dengan tertawa kecil. Sontak aku ikut tertawa mendengar kalimatnya. Ternyata sesampainya didalam, kami tak menemukan hal menarik apapun disana. Hingga akhirnya dia pun mengajakku berputar-putar saja dan membali es krim.
Hari demi hari ku lalui dengan berjauhan darinya. Tak saling bertatap muka. Namun, aku tetap percaya padanya. Percaya bahwa pertemuan selanjutnya pasti ada. Tulusnya aku mencintai Romi, membuat kesabaranku bertambah besar. Beberapa pekan ini memang Romi sedikit berubah. Ah...aku harap hanya perasaanku saja yang salah menduganya. Semoga dia benar-benar tak berubah dan baik-baik saja.
Memang kesabaran pasti ada batasnya. Kini, kesabaran yang berada pada puncak batas kesabarannya yang sedang aku rasakan. Aku merasa kehilangan sosoknya dalam setiap pesan singkat yang ia kirimkan padaku. Namanya juga pesan singkat, ya pasti singkat. Namun menurutku itu berbeda, disana terlihat ketikan kosong tak bermakna dan tak bernyawa. Hampa...serasa aku sedang berbicara dengan boneka saja. Yang hanya diam, tersenyum, tak berarti.
Aku masih bersabar menanti kembalinya seorang Romi yang dulu. Karena kesibukan yang menyita dia dariku, aku mengalah. Tak ada waktunya untuk sekedar menelepon untuk menyapaku. Entah...aku juga tak tahu apa yang kini tengah ia rasakan. Apakah dia merasakan rindu seperti yang aku rasakan? Atau kesibukan yang menyitanya dariku hanya sekedar aktifitas agar ia tak terbenam rindu yang membelenggunya? Aku tak tahu, semoga saja memang benar adanya sibuk itu ada untuk mengalihkan rindu agar ia tak merasa terpuruk karena rindu.
Tak pernah sedikitpun aku merubah isi pesan singkatku. Setiap pagi selalu ku bangunkannya untuk sholat Subuh. Ya walaupun hanya sekedar membangunkannya, tapi aku merasa senang dan tenang. Aku tak berharap setelahnya akan ada topik dalam pesan singkat yang menjadikan pesan itu terasa hangat ku nikmati. Seperti biasa, sibuknya menyita perhatian Romi untukku. Aku tak ingin mengganggunya dengan pesanku yang hanya bisa merengek karena terpuruk menghadapi rindu. Terlalu kekanak-kanakan memang. Tapi aku tak bisa pungkiri itu semua.
Hari demi hari, rinduku semakin menjadi. Mulai ada kecurigaan yang datang dalam pikiranku. Ah! Sesungguhnya aku benci mencurigai Romi. Tapi sikap dan perubahannya membuatku bertahan dengan rasa curigaku. Bertahan dengan ego dan rasa penasaranku.
Ya, selalu doa2 itu yang aku panjatkan. Apapun keadaannya, apapun statusnya, aku hanya ingin menjalin hubungan baik dengan Romi. Sekalipun hubungan itu menyakitkan bagiku. Banyak hal bodoh yang aku lakukan bersamanya. Mulai dari skype, tapi suaraku tak dapat didengar olehnya dan aku bisa mendengar suaranya. Hingga dia memutuskan untuk menelponku melalui handphonenya, agar kami bisa saling berbincang. Bertatap muka melalui skype. Hahaha hal itu memang bodoh.
Lalu pernah, sore hari aku dan dia pergi. Tak tahu kemana tujuan pergi. Hingga dia membawaku ke satu mall di kotaku. "Untuk apa kita kesini?", tanyaku. "Aku sendiri tak tahu. Mungkin saja ada hal menarik didalamnya haha" jawabnya dengan tertawa kecil. Sontak aku ikut tertawa mendengar kalimatnya. Ternyata sesampainya didalam, kami tak menemukan hal menarik apapun disana. Hingga akhirnya dia pun mengajakku berputar-putar saja dan membali es krim.
Hari demi hari ku lalui dengan berjauhan darinya. Tak saling bertatap muka. Namun, aku tetap percaya padanya. Percaya bahwa pertemuan selanjutnya pasti ada. Tulusnya aku mencintai Romi, membuat kesabaranku bertambah besar. Beberapa pekan ini memang Romi sedikit berubah. Ah...aku harap hanya perasaanku saja yang salah menduganya. Semoga dia benar-benar tak berubah dan baik-baik saja.
Memang kesabaran pasti ada batasnya. Kini, kesabaran yang berada pada puncak batas kesabarannya yang sedang aku rasakan. Aku merasa kehilangan sosoknya dalam setiap pesan singkat yang ia kirimkan padaku. Namanya juga pesan singkat, ya pasti singkat. Namun menurutku itu berbeda, disana terlihat ketikan kosong tak bermakna dan tak bernyawa. Hampa...serasa aku sedang berbicara dengan boneka saja. Yang hanya diam, tersenyum, tak berarti.
Aku masih bersabar menanti kembalinya seorang Romi yang dulu. Karena kesibukan yang menyita dia dariku, aku mengalah. Tak ada waktunya untuk sekedar menelepon untuk menyapaku. Entah...aku juga tak tahu apa yang kini tengah ia rasakan. Apakah dia merasakan rindu seperti yang aku rasakan? Atau kesibukan yang menyitanya dariku hanya sekedar aktifitas agar ia tak terbenam rindu yang membelenggunya? Aku tak tahu, semoga saja memang benar adanya sibuk itu ada untuk mengalihkan rindu agar ia tak merasa terpuruk karena rindu.
Tak pernah sedikitpun aku merubah isi pesan singkatku. Setiap pagi selalu ku bangunkannya untuk sholat Subuh. Ya walaupun hanya sekedar membangunkannya, tapi aku merasa senang dan tenang. Aku tak berharap setelahnya akan ada topik dalam pesan singkat yang menjadikan pesan itu terasa hangat ku nikmati. Seperti biasa, sibuknya menyita perhatian Romi untukku. Aku tak ingin mengganggunya dengan pesanku yang hanya bisa merengek karena terpuruk menghadapi rindu. Terlalu kekanak-kanakan memang. Tapi aku tak bisa pungkiri itu semua.
Hari demi hari, rinduku semakin menjadi. Mulai ada kecurigaan yang datang dalam pikiranku. Ah! Sesungguhnya aku benci mencurigai Romi. Tapi sikap dan perubahannya membuatku bertahan dengan rasa curigaku. Bertahan dengan ego dan rasa penasaranku.
Komentar
Posting Komentar