apalah arti menunggu 3

Hari berganti minggu. Kian lama aku kian gundah. Entah setan apa yang berada disampingku saat ini. Cinta memang harusnya percaya. Dan aku pun seperti itu. Aku percaya dengan apa yang ia katakan. "Aku tidak berubah Rin, mungkin hanya kesibukanku yang terlalu sibuk", jawaban yang selalu aku peroleh darinya. Setiap aku gundah, setiap rasa percayaku memudar, aku selalu menanyakan hal yang sama. Berharap ada jawaban yang menenangkanku, yang dapat diterima logikaku dengan aman.

"Sayang, aku rindu...aku ingin bertemu. Kapan kau akan menenangkan rinduku?", tanyaku pada Romi.
"Sabar sayang, semuanya pasti berbuah indah pada waktunya", kalimat itu yang selalu menenagkanku saat aku merasa lelah, lelah dalam menantikan pertemuan.

Namun, seiring berjalannya waktu, pesan yang Romi kirimkan untukku semakun terasa hambar, tak hangat seperti dulu. Sebenarnya ada apa dengan dirinya? Apa aku membosankan? Atau karena ia kesal pada kemanjaanku yang menyita pikirannya. Dia selalu memintaku mencari kesibukan saat aku sedang terbalut rindu yang teramat merisaukan.

Pernah pada suatu saat aku melakukanya.  Aku mencari kesibukan yang memang kesibukan itu menyita waktuku. Pada saat itu aku tengah sibuk mengedit halaman pada blogku. Ya bisa dikatakan itu memang salah satu tugasku. Namun kali ini tugas itu mendesak karena deadline yang diberikan bosku. Aku mengedit tulisan beserta foto-foto model yang harus aku iklankan di page blog kantorku. Butuh ketelitian dan konsentrasi yang tinggi memang mengeditnya.

Kuhabiskan waktu berjam-jam untuk menyelesaikan tugasku. Tapi tetap saja, aku tak bisa lama-lama memalingkan pikiranku dari Romi. Karena aku merindunya setiap hari, dan hal itu tak bisa teracuhkan begitu saja. Apapun, bagaimanapun kesibukan menyita waktuku. Tetap Romi berputar dalam pikiran dan hatiku. Lalu kembali ku alihkan dengan berkonsentrasi tinggi dengan pekerjaanku yang rumit.

Tak terasa sore menjelang, namun pekerjaanku belum juga tuntas. Aku memutuskan untuk menyelesaikannya di rumah. Namun, bosku tak mengijinkanku pulang ke rumah sebelu, tugasku selesai. Karena deadline itu tentunya, yang menghalangiku sedikit bersantai mengerjakan tugasku. Disela-sela bekerja, aku mencoba menghubungi Romi. Nihil, tak ada balasan. Sesibuk itukah dirinya hingga tak sempat membalas pesanku? Aku melanjutkan pekerjaanku. Pukul 21.00 WIB semua terselesaikan.

Setelah kuberikan semua soft copy pekerjaanku pada si bos, aku langsung segera berkemas pulang. Dijalan pulang, aku kembali menghubungi kekasihku itu. Alhamdulillah, akhirnya terbalaskan juga pesanku itu. Memang, sesingkat biasanya. Namun itu lebih dari cukup untuk mengobati kekuatiran dan rinduku padanya. Mungkin karena terlalu sibuk, pesan terakhirku tak sempat ia balas.

Hingga suatu ketika, semua yang ku pendam aku ungkapkan dengan emosi yang meledak-ledak. "Aku merasakan perubahan padamu Rom. Katakan mengapa!" tanyaku penuh amarah. "Aku sudah pernah katakan, aku sama saja, tak berubah. Hanya sibuk yang terlalu menyita waktu untuk mengingat dan sedikit merindumu". "Mudah sekali kau mengatakan lupa padaku, seakan kau tak pernah merasakan rindu yang menggebu seperti yang kurasakan". "Aku memang tak merindukanmu, karna sibukku".

"Apa kau tak merasakan perubahan dalam setiap pesan yang kau kirimkan untukku? Hampa, tak hangat, tak dapat menenangkanku". "Ya, aku merasakannya. Mungkin karena beberapa bulan ini tak ada pertemuan di antara kita". "Rom, sadarkah kau mengatakan semua itu? Dulu, sibukmu tak merenggutmu dariku. Semua seakan baik saja. Apa yang bisa merubah kehangatan dalam pesanmu untukku?". "Memang mungkin karena hal tersebut, jadi kau merasa aku berubah, padahal sebenarnya aku tak berubah sedikitpun, Rin".

Sedikitku menghela napas panjang dipertengakaran via telepon tersebut. "Entah Rom, aku merasa Romi yang berbicara denganku saat ini bkanlah Romi yang membuat aku jatuh cinta". "Airin, aku merasakan perubahan dalam pesanku, bukan berarti perubahan dalam sikapku padamu. Hanya karena pesanmu kadang tak ku hiraukan". "Tapi aku merasakan hal itu Rom, percayalah. Kau pasti sudah mengetahui bahwa aku seorang yang sensitif. Aku mohon mengertilah dan cari jalan keluar agar kecurigaanku berkurang, aku kalut Rom". Dengan tetap tenang, Romi berkata, "Lalu apa inginmu? Kita sudahi semua agar kau tak semakin kalut dengan rindumu?"

Seketika suasana hening...aku mencoba menarik napas panjang untuk menahan air mataku. Namun itu sia-sia, air itu mengalir dengan derasnya. Ah mengapa aku harus menangis. "Semudah itu kau ucap  untuk mengakhiri cerita ini? Lalu apa gunanya aku menunggu berbulan-bulan demi pertemuan yang aku impikan? Apa gunanya aku bertahan dengan isi pesan singkatmu selama ini? Apa gunanya pula mencoba menerima komunikasi hanya lewat pesan singkat? Tak ada telepon, ataupun skype seperti dulu". "Airin, maafkan aku yang terlalu mudah mengucapkan hal yang seharusnya tak terucap. Emosiku memang sulit tertahankan. Aku akui aku merindukanmu, bahkan sangat merindukanmu. Aku hanya tak ingin terpuruk karena rindu".

"Jangan ucapkan itu lagi. Aku merasa tak berguna apa yang selama ini kita jalani dan perjuangkan", jawabku terisak. "Sudahlah Airin, aku tak mau membuatmu semakin terluka. Sudahi saja semua untuk saat ini. Aku hanya ingin sendiri, memikirkannya kembali. Jika memang Tuhan berkehendak menyatukan kita, pasti semua akan kembali". "Kau...kau tak pikirkan aku? Lalu untuk apa saat itu kau memintaku menjadi kekasihmu jika saat ini kau hanya ingin sendiri? Untuk apa?!! Mengapa dulu harus kau pinta aku menjadi kekasihmu?". "Maafkan aku Rin, untuk saat ini aku buuh waktu memikirkannya. Jika memang jalan Tuhan kita kembali, maka kembali. Kita serahkan saja padaNya". "Dengan mudahnya Rom!! Kau tak pikirkan betapa hancurnya aku saat ini??!! Apa boleh buat, aku memaksa pun tak ada gunanya kan? Baiklah...", jawabku lirih.

Tak kuasa menahan tangisku yang terisak, ku putuskan untuk menyudahi percakapan yang menyayat hatiku. Ingin rasanya aku memelukmu tuk terakhir kali, disaat masalah yang seharusnya diselesaikan secara langsung tapi kenyataannya harus terselesaikan hanya dengan telepon.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berat Rasa

Aku Menulis Seperti Angin Berhembus Di Telinga

Kosong