Kisah Kita part1

Rintik hujan sore ini memutar kembali masa-masa dimana kau dan aku saling menggenggam erat. Hangatnya kasih yang aku curahkan sangat terasa di rintik hujan. Sayang, waktu bergulir secepat kilat sore itu. Kau pergi dan tak kembali. Hingga pagi ini, ke tuliskan sepenggal cerita. Cerita saat kau dan aku saling melepas rindu untuk yang terakhir kalinya.

Sinar mentari terbit begitu indah, hangat dan penuh semangat. Enggan beranjak dari kasurku ini, tak rela sedikitpun. Ponselku berdering, begitu ku lihat nama yang ada di layar ponselku, ternyata matahari keduaku menyambut. Aku mengangkat teleponnya, dengan sapaan yang hangat sehangat mentari pagi itu, ia menyapaku, "Selamat pagi kekasih kecilku". Aku selalu dipanggilnya seperti itu. Katanya, aku masih seperti adik kecilnya yang dicintai sepenuh hati.

Tak apalah, karena apapun sebutan darinya untukku, itu tak masalah. Yang terpenting ia tak macam-macam dengan hubungan yang kita jalin satu setengah tahun ini. Jatuh bangun aku mempertahankannya, untung dia juga melakukan hal yang sama pada hubungan kami. "Selamat pagi matahariku...", suaraku masih setengah berat saat menyapanya di telepon pagi itu. Selalu saja ia mengatakan hal yang sama saat menyapaku, "Pagi ini, Tuhan memberikanku kesempatan berkata padamu, bahwa aku mencintaimu, dan cinta ini karena Tuhan yang berikan". Oh Tuhan...aku sangat berterima kasih karena Kau tlah mengirimkannya untukku.

Aku selalu tak bisa berkata-kata setiap mendengar kalimat itu darinya. Setelah beberapa menit ia meneleponku, kami akhiri percakapan untuk segera memulai aktifitas sehari-hari. Ya, aku seorang penulis di salah satu majalah ibu kota. Dan kekasihku, Romi adalah seorang Manager di salah satu perusahaan kendaraan Jepang yang letaknya di daerah Bekasi. Segera tujuan utamaku adalah kamar mandi. Usai menyegarkan diri, aku menyiapkan segala macam keperluanku ke kantor, tak lupa cerita-cerita fiktif untuk para remaja yang gemar membaca tulisanku.

Usai sarapan aku langsung menuju kantor. Sesampainya disana, tempat berkumpulnya inspirasiku telah menanti. Seperti biasa, duduk manis dengan laptop menyala dan memandang langit aku langsung mendapatkan banyak ide cerita untuk ku tulis. Satu jam, dua jam, tiga jam, sampailah aku dititik jenuhku menghasilkan tulisan. Menikmati kopi panas sepertinya akan membangkitkan semangatku. Sembari menikmati kopi, aku buka ponselku. Ternyata Romi mengirimkan 3pesan yang belum aku baca.

"Kekasih kecilku, selamat menulis, gunakan hati dan kerahkan seluruh imajinasimu ya, Sayang", itu pesan pertama yang aku baca. "Cerahnya sang mentari pagi ini mengalahkan cerahnya masa depan yang ku bayangkan bersamamu, kasih", benar, itu yang kedua. "Aku mencintaimu karna Tuhan, aku harap perpisahan kita nantinya karna Tuhan pula yang menghendaki, tapi aku selalu berdoa agar hanya maut yang memisahkan kita nanti :) ". Ah, sendu rasanya membaca isi pesan ketiga darinya. Luluh hatiku membacanya, perasaan yang ada untuknya semakin besar dan kuat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berat Rasa

Aku Menulis Seperti Angin Berhembus Di Telinga

Kosong