Tanpa Bahasa 1
Masih lekat, di bangku ini kau dan aku memulai cerita kita. Tak sengaja aku menyentuh tanganmu, iya kamu. Gadis kecil yang senyumnya menenagkan. Sontak kamu dan aku kaget secara bersamaan karena kejadian itu. Lekas aku menuturkan kata maafku padamu. Raut wajah terkejut itu berubah menjadi senyum khasmu yang aku suka. Oh Tuhan, indahnya ciptaanMu ini, sungguh menenagkan senyumnya Tuhan. Uluran tangan kecilmu kusambut dengan suka cita.
Tak buang waktu, aku langsung mengajakmu berkenalan. Ku sebutkan nama lengkap dan nama panggilanku. Kamu menjawab dengan suara lirih yang merdu sekali. Ah, aku merasa aku tengah berbincang dengan seorang bidadari surga. Waktu kamu sebutkan namamu aku langsung kagum mendengarnya. Melodi Khanza Ovilia, nama yang cantik secantik pemiliknya, gumamku. Masih kah kamu ingat, percakapan awal kita mengenai novelmu dan komikku?
Ternyata hobi kita tak berbeda jauh, kesukaan kita pun sama. Sama-sama suka musik, hangout, dan nonton film. Wah, tak terkira gembiranya aku menemukan sosok gadis sepertimu. Karena terlalu asyiknya kita berbicara ini-itu, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Kamu pun segera berpamitan pulang, karena takut sampai rumah terlalu malam. Langsung saja tanpa basa-basi aku minta nomor telepon yang bisa ku hubungi nanti. Alasanku simple, ingin melanjutkan percakapan kita di pertemuan lain waktu nanti. Ah, terlalu malu aku untuk mengakui kalau percakapan itu akan ku lanjutkan lewat sms atau telepon.
Selang satu minggu kita menjalin komunikasi melalui telepon seluler, aku pun memberanikan diri untuk mengajakmu kembali berbincang secara langsung. Memang awalnya kamu ragu untuk bertemu lagi denganku. Tapi, bukan karena kamu enggan, justru karena kamu sibuk. Kesibukanmu itu memang menyita waktu hingga pertemuan itu pun tak bisa kita lakukan secepatnya. Untungnya, sore itu juga kamu sms aku memberi tahu kalau sore itu kamu ada waktu untuk jalan berdua denganku.
Pukul setengah empat sore, aku menunggumu di tempat pertama kita bertemu. Aku mengenakan kemeja biru lengan panjang yang selalu aku lipat satu kali dibagian kancing lengannya. Dengan perasaan yang tak menentu aku menunggu kedatanganmu, Ovi. Akhirnya tak lama kamu muncul dengan short dress warna coklat muda yang cocok sekali dengan badan mungilmu. Aku jadi semakin tak karuan mengagumimu. Kamu menyapaku dengan senyuman hangatmu sembari kamu menepuk bahuku pelan.
Coffeshop jadi pilihan tempat berbincang sore itu. Kamu duduk berseberangan denganku, caramu duduk sangat anggun, walaupun memang tidak seanggun Putri Indonesia. Komikku menjadi bahasan pertama kita. Aku menceritakan komik apa saja yang aku suka. Ternyata kamu juga menyukai satu komik kesukaanku, Miiko. Komik menggelikan dengan Miiko sebagai tokoh utama yang bodoh tapi lucu. Betapa senangnya hatiku melihatmu tertawa terbahak. Ingin rasanya aku mencubit pipi merahmu.
Setelah puas dengan komik Miiko, novelmu pun menjadi bahasan selanjutnya. Ya, kamu menyukai novel humor, tapi lebih mendalami novel percintaan yang kisahnya lebih menggunakan emosi dan hati saat membacanya. Kamu tunjukkan beberapa novel percintaan yang kamu bawa. Lebih tepatnya merekomendasikanku untuk membacanya dan merasakan alur ceritanya. Aku menerima novel itu dengan senang hati, walaupun sebenarnya aku kurang menyukai cerita yang menguras emosi dan menggunakan hati untuk memahaminya. Tapi tak apalah, demi bisa lebih mengenalmu...
Tak buang waktu, aku langsung mengajakmu berkenalan. Ku sebutkan nama lengkap dan nama panggilanku. Kamu menjawab dengan suara lirih yang merdu sekali. Ah, aku merasa aku tengah berbincang dengan seorang bidadari surga. Waktu kamu sebutkan namamu aku langsung kagum mendengarnya. Melodi Khanza Ovilia, nama yang cantik secantik pemiliknya, gumamku. Masih kah kamu ingat, percakapan awal kita mengenai novelmu dan komikku?
Ternyata hobi kita tak berbeda jauh, kesukaan kita pun sama. Sama-sama suka musik, hangout, dan nonton film. Wah, tak terkira gembiranya aku menemukan sosok gadis sepertimu. Karena terlalu asyiknya kita berbicara ini-itu, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Kamu pun segera berpamitan pulang, karena takut sampai rumah terlalu malam. Langsung saja tanpa basa-basi aku minta nomor telepon yang bisa ku hubungi nanti. Alasanku simple, ingin melanjutkan percakapan kita di pertemuan lain waktu nanti. Ah, terlalu malu aku untuk mengakui kalau percakapan itu akan ku lanjutkan lewat sms atau telepon.
Selang satu minggu kita menjalin komunikasi melalui telepon seluler, aku pun memberanikan diri untuk mengajakmu kembali berbincang secara langsung. Memang awalnya kamu ragu untuk bertemu lagi denganku. Tapi, bukan karena kamu enggan, justru karena kamu sibuk. Kesibukanmu itu memang menyita waktu hingga pertemuan itu pun tak bisa kita lakukan secepatnya. Untungnya, sore itu juga kamu sms aku memberi tahu kalau sore itu kamu ada waktu untuk jalan berdua denganku.
Pukul setengah empat sore, aku menunggumu di tempat pertama kita bertemu. Aku mengenakan kemeja biru lengan panjang yang selalu aku lipat satu kali dibagian kancing lengannya. Dengan perasaan yang tak menentu aku menunggu kedatanganmu, Ovi. Akhirnya tak lama kamu muncul dengan short dress warna coklat muda yang cocok sekali dengan badan mungilmu. Aku jadi semakin tak karuan mengagumimu. Kamu menyapaku dengan senyuman hangatmu sembari kamu menepuk bahuku pelan.
Coffeshop jadi pilihan tempat berbincang sore itu. Kamu duduk berseberangan denganku, caramu duduk sangat anggun, walaupun memang tidak seanggun Putri Indonesia. Komikku menjadi bahasan pertama kita. Aku menceritakan komik apa saja yang aku suka. Ternyata kamu juga menyukai satu komik kesukaanku, Miiko. Komik menggelikan dengan Miiko sebagai tokoh utama yang bodoh tapi lucu. Betapa senangnya hatiku melihatmu tertawa terbahak. Ingin rasanya aku mencubit pipi merahmu.
Setelah puas dengan komik Miiko, novelmu pun menjadi bahasan selanjutnya. Ya, kamu menyukai novel humor, tapi lebih mendalami novel percintaan yang kisahnya lebih menggunakan emosi dan hati saat membacanya. Kamu tunjukkan beberapa novel percintaan yang kamu bawa. Lebih tepatnya merekomendasikanku untuk membacanya dan merasakan alur ceritanya. Aku menerima novel itu dengan senang hati, walaupun sebenarnya aku kurang menyukai cerita yang menguras emosi dan menggunakan hati untuk memahaminya. Tapi tak apalah, demi bisa lebih mengenalmu...
Komentar
Posting Komentar