Waktu Bukan Tolok Ukur I
Belum ada 1bulan aku mengenalnya, ya kira-kira 2minggu ini aku dekat dengan dia. Oh, cinta memang buta, segalanya terasa indah jika sedang terpanah asmara cinta. Aku berkenalan dengannya, melalui teman dekatku yang juga teman dekat Hendra. Ve memberikan nomor handphoneku kepada Hendra. Baru beberapa menit nomorku terkirim ke Hendra, aku langsung menerima pesan singkat yang berisikan ajakan berkenalan. Ya, dia memperkenqalkan dirinya semanis mungkin. Tapi aku belum tertarik dengannya. Setelah beberapa hari kami sering mengirim sms, Hendra mengajakku kencan. Bisa dibilang ini pertama kalinya aku pergi dengan gebetanku setelah 1 tahun aku menjadi jomblo. Senang sekali aku bisa pergi bergurau dan berbagi cerita dengannya. Rasanya kita sudah saling mengenal lama, padahal baru dalam hitungan hari.
Dia menggenggam tanganku saat aku ketakutan melihat pertunjukan monyet di pinggir jalan dekat tempat kami pergi. Seakan ada super hero yang sedang menolongku dari ketakutan dari penjahat yang akan melukaiku. Oh, jantungku berdebar kencang, tanganku mulai basah karna keringat dingin yang menandakan bahwa aku memiliki jantung lemah. Ah, ingin ku genggam tangannya, tapi aku terlalu malu melakukannya. Tuhan, nikmat sekali anugrahMu membiarkan cinta bersemi di hatiku. Dari perlakuanmu selama dekat denganku, tanpa aku sadari aku telah menggantungkan harapan untuk bisa mencintaimu bukan secara diam-diam seperti ini. Aku berhasrap kau rasakan hal yang sama padaku.
2 minggu sudah kedekatan di antara kami terjalin. Malam itu Hendra mengajakku makan malam di luar seperti biasanya. Aku pun pergi tanpa rasa curiga sedikitpun pada keanehan sikapnya. Hendra lebih sering mencuri pandang denganku. Entah, biasanya dia tak pernah melakukannya secara diam-diam. Kemudian, aku merasakan suhu panas di kulit telapak tanganku. Tuhan...Hendra menggenggam tanganku, kali ini erat sekali. Matanya langsung tertuju padaku dan aku pun tak bisa berpaling dari tatapan tajam itu. Tak kusangka, Hendra dengan gentlenya mengutarakan isi hatinya padaku. Tidak ada kata yang terbata. Semua begitu lancar seperti kencangnya kereta yang sedang melaju.
Dia mengatakan bahwa dia nyaman berada didekatku seperti saat ini, menggenggam erat tanganku, dan menatap tajam bola mataku. Semua terasa begitu indah, perasaanku tak bertepuk sebelah tangan. Terima kasih Tuhan, kau jawab semua keinginanku. Aku pun mengatakan hal yang memang sejujurnya aku rasakan selama berada didekatnya, kali ini tanpa rasa malu. Sejak malam itu, kami resmi menjalin hubungan 'kekasih'. Memang baru 2 minggu kami melakukan masa pendekatan, tapi tak emnutup kemungkinan bahwa kami tak bisa menjalin suatu hubungan yang didamba semua insan kan?
2 minggu pacaran, semua terasa indah. Begitu indah, hingga aku tak mampu sedikitpun berhenti tersenyum saat menatap wajah, foto atau bahkan sedang membaca pesan singkat darinya yang begitu romantis dan perhatian. Pertemuan demi pertemuan tak terasa bosan memandang tajam bola matanya. Sangat amat menyejukkan hatiku. Cinta yang bersemi ini selalu aku agung-agungkan. Tak peduli apa yang dikatakan teman-temanku tentang kejelekan Hendra. Karena tak semua manusia itu luput dari kesalahan dan tak ada manusia yang sempurna kan?
1 bulan sudah kami menjalin hubungan ini. Mulasi terasa sedikit hambar pada hubungan kami. Pesan singkat yang dikirim Hendra tak lagi hangat, tak lagi menarik untuk ku baca. Begitu pula isi pesanku untuk Hendra, jauh dari perhatian, sangat singkat dan mungkin terlalu singkat pesanku ini. Aku mulai sedikit ragu dengan kelanjutan hubungan ini. Aku sempat berpikir mengakhirinya, tapi aku mengacuhkan pikiran itu sejenak. Hingga tiba, Hendra mengajakku pergi makan malam. Malam itu, tak ada kemesraan di antara kami. Hanya tatapan kosong yang keluar dari mata kami masing-masing. Hendra memulai percakapan antara kami tanpa basa-basi.
Dia mungkin juga merasakan apa yang aku rasakan, hambar. Aku mengiyakan perkataannya. Malahan, aku memberi spesifikasi alasan yang menguatkan bahwa hubungan kami tlah berbeda, tak sehangat dulu. Secepat ini kah perasaan bahagia dan cinta di antara kami menghilang? Memang waktu pendekatanku dengannya tak lama, hanya 2 minggu saja. Apa ini terlalu cepat untuk menjalin hubungan? Entahlah...sejak percakapan dan pertemuan malam itu, kami memutuskan untuk mengakhiri cerita ini. Mungkin karna kekaguman sesaat yang tak kami ketahui artinya. Bukan cinta, tapi kagum. Beda tipis memang, sudahlah...mungkin kami mengawalinya terlalu cepat, masa perkenalan yang cepat ini mungkin penyebab cepat hilangnya rasa kasih antara kami.
Dia menggenggam tanganku saat aku ketakutan melihat pertunjukan monyet di pinggir jalan dekat tempat kami pergi. Seakan ada super hero yang sedang menolongku dari ketakutan dari penjahat yang akan melukaiku. Oh, jantungku berdebar kencang, tanganku mulai basah karna keringat dingin yang menandakan bahwa aku memiliki jantung lemah. Ah, ingin ku genggam tangannya, tapi aku terlalu malu melakukannya. Tuhan, nikmat sekali anugrahMu membiarkan cinta bersemi di hatiku. Dari perlakuanmu selama dekat denganku, tanpa aku sadari aku telah menggantungkan harapan untuk bisa mencintaimu bukan secara diam-diam seperti ini. Aku berhasrap kau rasakan hal yang sama padaku.
2 minggu sudah kedekatan di antara kami terjalin. Malam itu Hendra mengajakku makan malam di luar seperti biasanya. Aku pun pergi tanpa rasa curiga sedikitpun pada keanehan sikapnya. Hendra lebih sering mencuri pandang denganku. Entah, biasanya dia tak pernah melakukannya secara diam-diam. Kemudian, aku merasakan suhu panas di kulit telapak tanganku. Tuhan...Hendra menggenggam tanganku, kali ini erat sekali. Matanya langsung tertuju padaku dan aku pun tak bisa berpaling dari tatapan tajam itu. Tak kusangka, Hendra dengan gentlenya mengutarakan isi hatinya padaku. Tidak ada kata yang terbata. Semua begitu lancar seperti kencangnya kereta yang sedang melaju.
Dia mengatakan bahwa dia nyaman berada didekatku seperti saat ini, menggenggam erat tanganku, dan menatap tajam bola mataku. Semua terasa begitu indah, perasaanku tak bertepuk sebelah tangan. Terima kasih Tuhan, kau jawab semua keinginanku. Aku pun mengatakan hal yang memang sejujurnya aku rasakan selama berada didekatnya, kali ini tanpa rasa malu. Sejak malam itu, kami resmi menjalin hubungan 'kekasih'. Memang baru 2 minggu kami melakukan masa pendekatan, tapi tak emnutup kemungkinan bahwa kami tak bisa menjalin suatu hubungan yang didamba semua insan kan?
2 minggu pacaran, semua terasa indah. Begitu indah, hingga aku tak mampu sedikitpun berhenti tersenyum saat menatap wajah, foto atau bahkan sedang membaca pesan singkat darinya yang begitu romantis dan perhatian. Pertemuan demi pertemuan tak terasa bosan memandang tajam bola matanya. Sangat amat menyejukkan hatiku. Cinta yang bersemi ini selalu aku agung-agungkan. Tak peduli apa yang dikatakan teman-temanku tentang kejelekan Hendra. Karena tak semua manusia itu luput dari kesalahan dan tak ada manusia yang sempurna kan?
1 bulan sudah kami menjalin hubungan ini. Mulasi terasa sedikit hambar pada hubungan kami. Pesan singkat yang dikirim Hendra tak lagi hangat, tak lagi menarik untuk ku baca. Begitu pula isi pesanku untuk Hendra, jauh dari perhatian, sangat singkat dan mungkin terlalu singkat pesanku ini. Aku mulai sedikit ragu dengan kelanjutan hubungan ini. Aku sempat berpikir mengakhirinya, tapi aku mengacuhkan pikiran itu sejenak. Hingga tiba, Hendra mengajakku pergi makan malam. Malam itu, tak ada kemesraan di antara kami. Hanya tatapan kosong yang keluar dari mata kami masing-masing. Hendra memulai percakapan antara kami tanpa basa-basi.
Dia mungkin juga merasakan apa yang aku rasakan, hambar. Aku mengiyakan perkataannya. Malahan, aku memberi spesifikasi alasan yang menguatkan bahwa hubungan kami tlah berbeda, tak sehangat dulu. Secepat ini kah perasaan bahagia dan cinta di antara kami menghilang? Memang waktu pendekatanku dengannya tak lama, hanya 2 minggu saja. Apa ini terlalu cepat untuk menjalin hubungan? Entahlah...sejak percakapan dan pertemuan malam itu, kami memutuskan untuk mengakhiri cerita ini. Mungkin karna kekaguman sesaat yang tak kami ketahui artinya. Bukan cinta, tapi kagum. Beda tipis memang, sudahlah...mungkin kami mengawalinya terlalu cepat, masa perkenalan yang cepat ini mungkin penyebab cepat hilangnya rasa kasih antara kami.
Komentar
Posting Komentar