Kau Dan Mereka
Selamat pagi matahari disanaa!! Rasanya setengah malas untuk bangun dan bergegas ke kampus. Mataku masih sembab karena mengingatmu semalaman. Ah, rugi sebenarnya dengan apa yang aku lakukan semalam. Tapi, bodohnya aku, sudah tahu rugi masih saja ku lakukan. Hal bodoh itulah yang aku lakukan saat rindu akan bayangmu, bayang kita menyerang seluruh bagian dari tubuhku. Tapi, sudahlah, toh aku hanya rindu sendiri tanpa kau tahui ini semua.
Pagi ini jadwal kuliah yang padat mungkin akan membantuku melupakan sejenak rindu kronisku padamu. Semoga saja jadwalku ini sedikit menyembuhkan mata sembabku. Setiap mataku sembab, pasti aku mengoleskan sedikit foundation ke kantung mataku ini agar tak terlalu terlihat sembab. Sepanjang perjalanan aku hanya berpikir, jika aku lebih lama rindu sendiri sebelum dan sesudah perpisahan, apakah kau merasakannya?
Saat kau tinggalkanku tanpa bahasa saja kau hanya mengetikkan kalimat yang membuatku shock "Ya, aku emang ga kangen. Mungkin karna jarang ketemu". Rasanya seperti ada paku berkarat yang menancap lalu membunuhku perlahan. Aku hanya kecewa dengan kalimat itu, entah kau mengetikkan pesan singkat itu dengan perasaan rindu, terpaksa, atau memang fakta. Mungkin memang itu rahasia yang masih kau simpan jauuuuhhh dariku.
Kalau ku ingat kembali masa-masa singkat kau bersamaku dengan bualanmu yang membuatku hingga saat ini tak mampu melangkah ke depan tanpe menoleh ke belakang, rasanya sakit. Dulu kau bilang akan pergi bersamaku ke kota dimana sekarang aku kuliah. Tapi, kenyataannya? Baru 9hari selsai Ujian Nasional kau sudah meninggalkanku. Hingga aku jatuh bertubi-tubi, kau tak peduli. Padahal saat itu saat dimana aku sedang rapuh-rapuhnya.
Untung aku memiliki sahabat yang tak pernah meninggalkanku disaat berduka. Mereka selalu menyemangatiku hingga saat ini aku kembali bangkit, ceria, riang dan semangat. Tak seperti aku, yang hanya ada saat aku riang, saat aku tak meneteskan air mata. Laki-laki macam apa kau ini. Dulu kau memperjuangkanku, hanya demi pertemuan. Kemarin? Sekarang? Kau tak pernah sedikitpun inginkan pertemuan.
Sahabat-sahabatku selalu memberikan support positif saat kau mulai menghilang, hingga akhirnya benar-benar menghilang. Mereka yang menyaksikan betapa lamanya aku terpuruk. Mereka yang membangkitkanku dari duka. Merekalah pagar bambu yang menopang tanaman layu;aku. Kau? Kau hanya kumbang yang menghisap madu lalu pergi meninggalkan bunga yang telah kau habiskan madunya. Sedih memang, pahit. Sampai saat ini aku menyesal, mengapa dulu aku menerimamu secepat itu. Hingga kau pun meninggalkanku begitu cepat.
Kawanku yang selalu meminjamkan bahunya kala air mataku jatuh. Kawanku yang selalu menerima telfon yang hanya berisi tangisan manjaku saat teringat akan dirimu. Kau hanya secuil masa kelamku, tapi aku tetap menghargaimu. Menghargai ceritaku bersamamu. Aku tetap merasa beruntung pernah menjadi kekasih hatimu, pernah mendapat kasih sayang spesial darimu, pernah menjadi warna dikehidupanmu :)
Kini, aku bangkit dari kesedihan cerita bersamamu. Sahabatku yang kemarin setia mendampingiku, disisiku, memelukku, kini tlah pergi meraih cita-citanya sendiri. Namun, kehangatan dari mereka masih terasa. Pelukan hangat mereka masih kudamba. Saat ini, kau bukanlah orang pertama yang kurindu, ada sahabat-sahabat yang pantas mendapat rinduku. Kau hanya secuil cerita yang aku simpan dan tak ingin ku baca kembali isinya...
Pagi ini jadwal kuliah yang padat mungkin akan membantuku melupakan sejenak rindu kronisku padamu. Semoga saja jadwalku ini sedikit menyembuhkan mata sembabku. Setiap mataku sembab, pasti aku mengoleskan sedikit foundation ke kantung mataku ini agar tak terlalu terlihat sembab. Sepanjang perjalanan aku hanya berpikir, jika aku lebih lama rindu sendiri sebelum dan sesudah perpisahan, apakah kau merasakannya?
Saat kau tinggalkanku tanpa bahasa saja kau hanya mengetikkan kalimat yang membuatku shock "Ya, aku emang ga kangen. Mungkin karna jarang ketemu". Rasanya seperti ada paku berkarat yang menancap lalu membunuhku perlahan. Aku hanya kecewa dengan kalimat itu, entah kau mengetikkan pesan singkat itu dengan perasaan rindu, terpaksa, atau memang fakta. Mungkin memang itu rahasia yang masih kau simpan jauuuuhhh dariku.
Kalau ku ingat kembali masa-masa singkat kau bersamaku dengan bualanmu yang membuatku hingga saat ini tak mampu melangkah ke depan tanpe menoleh ke belakang, rasanya sakit. Dulu kau bilang akan pergi bersamaku ke kota dimana sekarang aku kuliah. Tapi, kenyataannya? Baru 9hari selsai Ujian Nasional kau sudah meninggalkanku. Hingga aku jatuh bertubi-tubi, kau tak peduli. Padahal saat itu saat dimana aku sedang rapuh-rapuhnya.
Untung aku memiliki sahabat yang tak pernah meninggalkanku disaat berduka. Mereka selalu menyemangatiku hingga saat ini aku kembali bangkit, ceria, riang dan semangat. Tak seperti aku, yang hanya ada saat aku riang, saat aku tak meneteskan air mata. Laki-laki macam apa kau ini. Dulu kau memperjuangkanku, hanya demi pertemuan. Kemarin? Sekarang? Kau tak pernah sedikitpun inginkan pertemuan.
Sahabat-sahabatku selalu memberikan support positif saat kau mulai menghilang, hingga akhirnya benar-benar menghilang. Mereka yang menyaksikan betapa lamanya aku terpuruk. Mereka yang membangkitkanku dari duka. Merekalah pagar bambu yang menopang tanaman layu;aku. Kau? Kau hanya kumbang yang menghisap madu lalu pergi meninggalkan bunga yang telah kau habiskan madunya. Sedih memang, pahit. Sampai saat ini aku menyesal, mengapa dulu aku menerimamu secepat itu. Hingga kau pun meninggalkanku begitu cepat.
Kawanku yang selalu meminjamkan bahunya kala air mataku jatuh. Kawanku yang selalu menerima telfon yang hanya berisi tangisan manjaku saat teringat akan dirimu. Kau hanya secuil masa kelamku, tapi aku tetap menghargaimu. Menghargai ceritaku bersamamu. Aku tetap merasa beruntung pernah menjadi kekasih hatimu, pernah mendapat kasih sayang spesial darimu, pernah menjadi warna dikehidupanmu :)
Kini, aku bangkit dari kesedihan cerita bersamamu. Sahabatku yang kemarin setia mendampingiku, disisiku, memelukku, kini tlah pergi meraih cita-citanya sendiri. Namun, kehangatan dari mereka masih terasa. Pelukan hangat mereka masih kudamba. Saat ini, kau bukanlah orang pertama yang kurindu, ada sahabat-sahabat yang pantas mendapat rinduku. Kau hanya secuil cerita yang aku simpan dan tak ingin ku baca kembali isinya...
Komentar
Posting Komentar