Usai Pertemuan Itu...



Pedih rasanya mencapai titik terdalam rinduku. Ketidak pedulianmu, acuhmu, ketidak tahuanmu akan apa yang saat ini aku rasakan, terasa menyakitkan. Aku disini berteman sepi selalu merindukanmu, meski tak ku ungkapkan. 

Usai pertemuan itu, aku makin meyakini bahwa hingga saat ini aku masih belum bisa berhenti merindumu. Bayangmu selalu hadir seakan tak mau pergi. Manis ketika ku buka kembali ingatan tentang kita. Namun aku tak berharap semuanya kembali.

Keadaanku saat ini bukan karna aku ingin cerita kita kembali, namun, kau pergi tanpa bahasa, meninggalkan luka. Sepenggal kata tak kudengar dari bibirmu. Kau datang tanpa permisi, kau pergipun tanpa pamit.

Usai pertemuan itu aku harapkan masih ada pertemuan-pertemuan kita selanjutnya. Pertemuan yang membuatku merasakan cinta yang dulu pernah ada. Saat dimana kau dan aku bertukar cerita, berbagi tawa dan kau hangatkan aku dalam pelukmu.

“Aku mencintaimu lebih dari yang kau tahu, meski kau takkan pernah tahu...”, mungkin sepenggal lirik yang memang cocok untuk ku katakan padamu.

Aku tahu, kata rindu yang ku ucap untukmu takkan mengubah keadaan. Untuk membuatmu membalas rinduku saja tak pernah terpikir olehku. Apalagi untuk berpikir kau akan menoleh kembali ke arahku, berbalik melihatku yang tengah menangis kehilangan hingga sedalam ini dan memelukku.

Hingga saat ini aku pun tak tahu sampai manakah kau merasa kehilanganku. Apakah sedalam dan sesakit yang kurasakan? Entahlah, aku terlalu sulit mengetahui semua tentangmu, namun sebaliknya, kau selalu mudah menebak apa yang kurasakan dan kualami.

Usai pertemuan itu, aku tak juga menemukan jalan tuk berhenti merindumu, berhenti memikirkanmu, dan berhenti menangisimu. Sekali lagi, aku bukan berharap kembali, namun hanya caramu meninggalanku yang menyakitiku sedalam ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berat Rasa

Aku Menulis Seperti Angin Berhembus Di Telinga

Kosong