Kanvas

Selamat pagi! Entah ucapan apa yang harus ku katakan larut malam begini. Tak terasa sudah berada di tanggal dan bulan yang sama dengan tahun lalu. Namun, kini tlah berganti cerita, berbeda rasa.

Pada kenyatannya aku harus berhadapan dengan mimpi buruk yang selalu aku takutkan. Ah, harapanku tanggal dan bulan yang sama saat ini terlewatkan, tak pernah ada dan tak ingin ada.

Ia  pergi dengan ringan tanpa beban, sedangkan aku? Hanya terdiam memandangnya pergi untuk waktu yang cukup lama. Entahlah apa ia menyadari keterpakuanku saat menatapnya pergi atau tidak. Aku tak pedulikan itu, yang aku tahu kini aku mencoba berpaling.

Berpaling untuk tak menatap pada kesedihan yang sama, berpaling untuk hiraukan kepergianmu, dan berpaling untuk mencari warna baru dalam kanvasku. 

Perlahan aku persiapkan hati untuk melukiskan warna baru dalam ceritaku.
Dengan tak mencoba tuk menghapuskan warna-warna indah “ku dan nya”. Begitu hati-hati aku keluar dan meninggalkan kanvas usang itu. Terbukti betapa indahnya cerita lalu itu, aku membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menerima warna abu-abu yang tiba-tiba ada dalam kanvasku.

Ku letakkan kanvas usang itu dan mulai ku goreskan tinta-tinta senyuman, dengan warna yang belum kontemporer, masih dasar. Ada tinta biru baru yang masuk dalam ceritaku. Selalu tinta biru itu yang menggoreskan warna cerah dalam kanvasku.  Pada dasarnya kecintaanku akan warna biru begitu menggebu.

Kini benar adanya tinta biru yang benar-benar nyata dalam kanvasku. Tuhan selalu memberikan keindahan di setiap keruhnya warna hidup. Aku percaya karena aku telah mendapatkan keindahan yang baru. Aku mengaguminya, mengagumi kecerahan tinta biruku.




mungkin ini postingan gagal karena lagi buntu inspirasi :D



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berat Rasa

Aku Menulis Seperti Angin Berhembus Di Telinga

Kosong