Lepas...
Semua terlihat biasa saja, tak ada yang berbeda sedikitpun. Sikapnya, masih seperti yang aku suka. Perubahan positif yang signifikan itupun masih hangat terasa. Entah mengapa aku menyesali hal yang kulakukan saat itu. Dengan mata kepalaku sendiri, aku mengeja kata demi kata, mencoba menelaah percakapan-percakapan singkat.
Darahku beku seketika, nafas yang ku hirup terasa menyesakkan dada, tersengal. Sedikit air mata menumpuk dipelupuk mataku. Aku tak tahu, aku tak bisa mengartikannya. Untuk apa, untuk siapa, dan perkara apa yang dapat membuat hati ini berkecamuk tak menentu. Amarah, yang entah kepada siapa harus ku luapkan.
Kekecewaan...yang bagaimana mungkin datang saat ini. Saat dimana diriku sadar, ada perasaan lebih terhadap seseorang disana. Tapi, aku tak mengetahui apakah perasaanku ini berbalas. Tenggorokku seperti ada batu yang mengganjal, sakit. Otakku tak bisa berpikir positif, sungguh. Setan menggelayuti perasaanku saat ini. Lemah tak berdaya yang kurasa. Hancur...
Bagaimana aku menceritakan perasaan ini pabila diriku sendiri tak tahu harus memulai darimana. Perlakuannya akhir-akhir ini yang ku anggap "istimewa" apakah hanya sekedar perlakuan biasa? Mereka tak tahu... Mereka tak mengetahui apapun yang ku rasakan.
Ku coba terus berpikir, apa aku harus menangisi kepergian, menangisi ketidakpastian yang saat ini ada didepan mataku?
Entahlah... Aku meyakini bahwa dia lah alasanku tersenyum di atas kekecewaan mendalam. Tapi aku mohon satu Tuhan, jangan biarkan rasa ini ada dalam waktu yang lama jika ia tak sedikitpun merasakan. Merasakan betapa bahagianya aku menemukan sosok sepertinya. Jika ada yang lain dan lebih baik, bantu aku lepas, bantu aku ikhlas... Ikhlas untuk kesekian kalinya tenggelam bersama rasaku...
Komentar
Posting Komentar