Mengenangmu
Hai... Siang ini aku sedang berada di satu sudut ruang rumahku
yang selalu dan mungkin sudah terpatri bayangmu. Sembari ku nikmati tiap
tegukan kopi panas ini aku menuliskan cerita yang tokohnya pun masih sama. Aneh
memang, menikmati secangkir kopi di teriknya siang Kota Kretek. Tapi aku tak
peduli, aku menikmatinya.
Sudah lama setelah kejadian itu, aku tak pernah berdiam diri
(lagi) di ruangan ini. Tempat dimana cerita kita dimulai. Kita... ya kita
sebelum saat ini menjadi aku dan kamu, yang berjalan masing-masing. Disini aku
mulai mengenang bagaimana awal pertemuan itu. Pertama kali kamu menjabatkan
tanganmu sembari menyebutkan namamu dengan tegas dan sedikit gurauan
didalamnya.
Masih terasa segar di memoriku. Siang itu, kita bercerita
seputar hal sekolah dan gurauan didalamnya. Mungkin karena kita berada di
jurusan dan kelas yang sama cerita yang kita bagikan terasa menarik. Walaupun
aku berada satu angkatan dibawahmu. Tapi aku masih mendapatkan Wali Kelas yang
sama seperti angkatanmu.
Betapa lucu dan menariknya, sehingga kita tak ingat waktu akan
kebutuhan makanan siang itu. Karena perut sudah lapar, kitapun memutuskan
keluar untuk mencari hidangan apa yang cocok untuk siang ini. Aku hanya
menemanimu makan, karena tak mau membiarkan kakakku makan sendirian. Disana pun
kita masih bersenda gurau, tertawa pelan dan mungkin sedikit ada rasa malu
tersirat.
Betapa aku masih tersipu, entah karena apa. Faktanya saat itu
kamu telah memiliki dan dimiliki. Mungkin ini masih awal, sehingga aku belum
memikirkan perasaan apa yang datang padaku. Detik berganti menit,
ditengah-tengah obrolan aku melihat sebuah pesan singkat masuk di ponselmu. Ku
baca dengan sedikit kesusahan karena membaca dari arah berlawanan. Ternyata,
dia adalah separuh hatimu.
Aku hanya tersenyum dengan sedikit rasa tak menentu, yang entah
apa itu aku tak mengartikannya dengan baik.
Hari demi hari, makin terasa ada yang berbeda dari sekedar
senyum karena gurauan. Aku tak berani memastikan bahwa perasaan ini lebih dari
sekedar kakak dan adik kelas. Karena yang aku tahu, kamu telah berdua. Tak
mungkin aku berada pada posisi yang aku sendiri membencinya.
Waktu silih berganti, perasaan ini semakin tak menentu. Selalu
membuatku tersipu kala pesanmu tertangkap baik oleh mata dan hati. Pertemuan
demi pertemuan itu terus terjadi. Semakin dalam percakapan, semakin dalam pula
rasa yang ada. Hingga aku yang semula telah berniat melepasmu perlahan, menjadi
takut melepas dan dilepas.
Aku tahu kesalahan ini, tapi aku tak bisa pungkiri, karena kau
pun membiarkan perasaan ini tumbuh begitu pesat. Mungkin memang benar,
kekosongan hatimu terisi oleh keberadaanku. Sosoknya yang telah jauh, makin
jauh pula karena sikapnya. Aku tahu kau tengah berjuang meyakinkan perasaanmu.
Antara mempertahankan atau melepaskan.
Selalu manis yang ku rasa ketika bersamamu. . .
Komentar
Posting Komentar