Dia yang Pergi Dan Tak Kembali
Aku terbelenggu dalam ruang hampa yang selama ini enggan, bahkan tak bisa ku tinggalkan. Perasaan yang tak kunjung sirna, membuatku semakin risau. Mengetahui dia yang memilih pergi, bersama sosok masa lalunya, hati ini tercabik. Sakit...
Ruang hampa, kosong, gelap, tapi aku mampu bertahan. Padahal pemuda-pemuda itu satu persatu mencoba menerangi, mengisi kehampaan, tapi apa yang ku perbuat? Ku acuhkan mereka, mereka yang perlahan menjauhkan ilusi dirinya *(yang meninggalkanku) dari benakku.
Bahkan hingga aku sadar kini ia tengah memilih pengisi hati, ia menginginkan sosok yang menurutnya tepat. Entah tepat baginya seperti apa. Disisi lain, aku tlah dihadapkan pada pilihan. Semua mencoba merebut, menghibur, bergurau, mengenal lebih dalam, menguak diriku tak hanya sampullku saja. Lalu, bagaimana aku dapat melewatkan nikmat yang seperti ini dengan acuhnya?
Bodoh memang... Selalu menunggu yang tak pernah peduli. Selalu menunggu yang memilih pergi. Selalu menunggu yang tak pasti. Selalu dan selalu. Hingga kini aku tersakiti dengan perbuatanku sendiri, yang enggan pergi dan tak lelah menunggu.
Ruang hampa, kosong, gelap, tapi aku mampu bertahan. Padahal pemuda-pemuda itu satu persatu mencoba menerangi, mengisi kehampaan, tapi apa yang ku perbuat? Ku acuhkan mereka, mereka yang perlahan menjauhkan ilusi dirinya *(yang meninggalkanku) dari benakku.
Bahkan hingga aku sadar kini ia tengah memilih pengisi hati, ia menginginkan sosok yang menurutnya tepat. Entah tepat baginya seperti apa. Disisi lain, aku tlah dihadapkan pada pilihan. Semua mencoba merebut, menghibur, bergurau, mengenal lebih dalam, menguak diriku tak hanya sampullku saja. Lalu, bagaimana aku dapat melewatkan nikmat yang seperti ini dengan acuhnya?
Bodoh memang... Selalu menunggu yang tak pernah peduli. Selalu menunggu yang memilih pergi. Selalu menunggu yang tak pasti. Selalu dan selalu. Hingga kini aku tersakiti dengan perbuatanku sendiri, yang enggan pergi dan tak lelah menunggu.
Komentar
Posting Komentar