Abu - Abu
Mendung
begitulah langit yang terlihat pagi ini. Abu-abu warna yang tertangkap mataku.
Ingatanku langsung tertuju pada sesuatu dan seseorang yang sama seperti warna
langit pagi ini, abu-abu.
Memang
tak dipungkiri bahwa beberapa minggu terakhir adalah minggu terberatku dengan
segudang tugas dan deadline. Namun, bukan berarti itu semua dapat mengalihkan
saraf-saraf otakku darimu, sang abu-abu. Perputaran memori otakku begitu cepat
ketika kembali terlintas sedikit cerita lama kita. Kita? Maaf mungkin terlalu
cepat penggunaan kata “kita”, ya aku dan kamu.
Dimanapun
aku melihat suatu hal atau tempat yang mengingatkan akan diriku dan dirimu,
selalu otak ini tanpa pikir panjang mengulang kembali hal manis yang pernah
ada. Sedikit, namun terkenang. Sebentar, namun bahagia. Ini adalah hal tersulit
yang selalu menjadi krikil berjalannya diriku maju ke depan, terlalu dalam
mengartikan sesuatu yang abu-abu.
Aku
sendiri sudah berhasil pindah dari keterpurukan kemarin. Namun dermaga yang ku
singgahi saat ini adalah tempat yang salah, begitu anggapan mereka. Bagiku, ini
bukan suatu kesalahan, aku memilih karena hati, aku memilih tanpa paksaan.
Mungkin tepatnya dermaga ini memiliki kriteria khusus pengunjungnya. Sedangkan
aku menghiraukan kriteria itu.
Berprinsip,
aku mengerti dan aku mendukungnya. Bodohlah memang jika aku menyalahkan hal
kokoh seperti itu. Aku hanya tak ingin mengganggu. Yang ku inginkan semata-mata
hanya prioritas keduamu.
Sudah
jelas semua ini abu-abu tapi aku tetap bertahan pada ketidak jelasan. Mungkin
aku hanya mengetahui dan melihat dari pandanganku. Aku tak mengetahui cara
pandangmu akan ke-abu-abu-an yang terjadi. Tak terbesit kah padamu untuk
mengubah warna abu-abu menjadi warna yang jelas dan tegas? Hitam atau putih.
Cukup dengan memilih salah satu warna itu. Bukan dengan menggabungkan keduanya
menjadi satu.
Boleh
dibilang aku cukup menikmati alur yang dibuat. Namun, apa daya hati ini jikalau
alur yang kamu buat semakin menusuk, semakin menyakitkan, menyedihkan. Aku yang
hingga saat ini tak mengetahui apapun, sedangkan kamu sudah entah sejak berapa
lama mengetahui akhir kisahnya.
Sampai
kapan akhir ceritanya kau simpan? Bukan hanya aku sebagai penulis yang ingin
mengetahui dan menulis ceritanya. Namun, diluar sana banyak yang menantikan
kelanjutan kisahnya.
Aku
tak bisa pungkiri, tak bisa ku berpura-pura menghindarkan diri dari tatapan
mata itu, dari senyum manis dan lagi-lagi prinsip yang membuatku kagum. Hanya
saja, ketakutanku akan kehilanganmu menjadi lebih besar. Aku telah berhasil
pergi dan membuka cerita baru karenamu. Namun, kehadiranmu sendiri menjadi
batu-batu lainnya untukku tersenyum.
Setiap
kali tersenyum dan merasa senang, selalu kesedihan dan air mata datang
bersamaan. Kedua hal tersebut datang dari sumber yang sama, kamu. Terlalu
meyakinimu, menyakitkan bagiku. Terlalu nyaman hingga kini aku sulit beranjak.
Aku selalu mencoba menghindarimu, untuk tak meraskaan sakit yang semakin. Namun,
nihil. Yang ada aku takut berjarak darimu.
Selama
ini aku mengagumi, menyayangi, dan menangisi ke-abu-abu-an.
Komentar
Posting Komentar