Rindu - 1

Aku beranjak dari tempatku melepas lelah, membuka lembar kosong dan menggoreskan tinta biru.

Tiba-tiba kerinduan akan kebersamaan yang kini telah hilang terkikis waktu, kembali datang. Berawal dari merindukan seorang laki-laki muda, berkulit cokelat dan memiliki senyum manis, ya senyum yang selalu membuat darah berdesir, hati berdetak tak karuan.

Aku merindukan hal-hal yang kemarin terasa begitu dekat. Obrolan ringan hingga berat, cerita tentang kampung halaman beserta orang tercinta didalamnya, bertukar ilmu, tukar pikiran mengenai musik, menulis hingga topik bahasan yang entah apalagi, mungkin karena terlalu banyak perbincangan ringan kami.

Masih hangat terasa “gojekan” nya. Meskipun amat pemalu didepan umum, namun ia tetap berusaha sebaik mungkin memberi penjelasan dan pengetahuannya pada seseorang, semampunya. Pandangan demi pandangan yang dia utarakan begitu mengagumkan. Membuatku merasa memiliki sesuatu hal baru yang belum pernah ketahui sebelumnya.

Caranya memandang hidup, mengagumi, berargumen tentang apapun membuatku sejenak berpikir, “Tuhan, berpikir sederhana tentang ciptaanMu seperti ini pun terkadang terasa sulit bagiku”. Yang berbeda kini aku dan dia seperti dipisahkan lautan luas.

Kami teramat berjarak, bahkan aku seakan baru mengenalnya. Hanya kenal, bukan berteman. Untuk saling menyapa, rasanya lidah ini kelu. Caraku memandang, caranya memandang, terasa begitu canggung.

Sudah tak ingatkah dulu kita pernah saling berbagi tawa? Tak ingatkah dulu hampir setiap hari bertemu pandang?


Kini, memandang pun terasa canggung. Yang ku ingat, dulu kita pernah sedekat nadi...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berat Rasa

Aku Menulis Seperti Angin Berhembus Di Telinga

Kosong