Aku Hanya Merindu
Di heningnya malam aku merindu. Merindu pada dua sosok yang
ku kagumi. Bukan karena kesamaan yang dimiliki. Aku merindu karena sesuatu yang
berbeda. Kehangatan masing-masingnya begitu berbeda. Menorehkan cerita nyata
yang tak mudah terlupa.
Kerinduan pertama adalah padanya yang pergi tanpa bahasa.
Sungguh hatiku tak mampu berbohong. Bahkan hingga tahun ketiga aku duduk
dibangku kuliah aku masih bisa menitihkan air mata hanya karena merindu.
Merindu pada sosok yang mungkin sejak dia memilih pergi tak pernah
merindukanku. Aku rindu hangat candanya, hangat peluknya, guratan rindu
dimatanya dan manis tuturnya.
Memang, kini semua telah sirna, sudah hampir tiga tahun
lamanya. Hingga saat ini ku lihat bahagianya bersama yang lain. Ku tak mengapa
dengan ada atau tidaknya seseorang disampingnya. Kini yang nyata adanya adalah
aku masih merasakan hangatnya air yang mengalir dipipi kala kenangan dan
kerinduan tentangnya menari di kepalaku.
Tak terpungkiri semua ini terjadi bukan karena cinta yang
masih terasa. Hanya rindu dan kekecewaan ini terlalu menyakitkan bagiku. Bukan
maksut hati tak ingin memulai kembali dengan sosok yang lain. Namun ketakutan
untuk kembali dikecewakan dengan hal yang sepele ini membuatku semakin tak
yakin. Pikirku, tak mudah memulai dari awal lagi, menyesuaikan lagi,
dikecewakan lagi, sakit hati lagi, itu tak mudah.
Berkali ku coba namun hasilnya nihil, sama. Semua terasa
percuma. Bukan ku tak ingin pergi dan lari ke depan menjauhi masa kelam. Namun hati tak mungkin
berbohong ketika tak ditemuannya dua hati yang saling merasa nyaman. Ketika
hanya satu yang nyaman, nantinya hanya akan saling menyakiti. Dua hati yang
nyaman saja bisa saling menyakiti, apalagi hanya satu? Timpang, tak imbang.
Sosok ini masih terasa membanggakan dibenakku. Dia sosok yang apa adanya, tidak mengurangi atau
melebih-lebihkan apa yang ia miliki. Canda, tawa, kasih, sayang, rindu,
semuanya terasa pas, terasa imbang. Seberapa ia mengerti dan menerima lebih
kurangnya diriku.
Ia hanya tak punya rasa yang sama denganku. Rasa yang
kumiliki terlalu dalam hingga menyakiti diriku sendiri. Sedangkan ia? Hanya
sekedarnya mencintaku. Tidak terlalu dalam sehingga rasa kehilangan yang ia dan
aku rasakan berbeda. Aku sangat, sedangkan ia hanya kehilangan.
Sebenarnya begitu besar rasa ingin tahuku akan alasannya
melepas. Begitu mudah ia melepas, cepat, singkat dan menyakitkan bagiku. Hanya
ku ingin ia merasakan, membayangkan bagaimana ia menjadi diriku. Tercabik,
tergores, tersiksa, kelelahan meluapkan emosi yang hanya bisa ia rasakan
sendiri. Dengan menutup cerita sedih, menyimpan sendiri kecewa.
Dia tidak mengerti seberapa terpuruknya hati ini. Sekian
kali mencoba bangkit namun hanya kegagalan yang semakin banyak ku rasakan. Satu
per satu kegagalan membuatku lemah, membuatku merasa menjadi manusia paling tak
beruntung. Berkali-kali mencoba namun gagal dengan segala pencapaian.
Kini aku hanya berkutat dengan kesibukanku. Bagaimana aku
melupakan sakitku hingga tak terasa kembali. Bagaimana aku acuh pada perhatian
siapapun diluar sana. Betapa kaku hatiku akan perasaan yang dulu pernah ku
kagumi. Sungguh, terasa berat berjalan menahun seperti ini.
Komentar
Posting Komentar