Maaf #1
Cerah dengan sedikit
mendung...
Tiba-tiba kenangan tentangmu menggerogotiku. Sendu, pilu ketika yang terngiang adalah tangismu akan kepergianku. Tak sedikit pun keinginan menoleh menilikmu. Malah sengaja dengan keyakinan sepenuh hati, meninggalkanmu. Berniat melepasmu dari hidupku.
Tiba-tiba kenangan tentangmu menggerogotiku. Sendu, pilu ketika yang terngiang adalah tangismu akan kepergianku. Tak sedikit pun keinginan menoleh menilikmu. Malah sengaja dengan keyakinan sepenuh hati, meninggalkanmu. Berniat melepasmu dari hidupku.
Teringat kala itu, dimana suka duka kita lalui.
Entah bagaimana kesabaranku untuk kebatuanmu teramat besar. Kasih sayang tak berkurang sedikit pun, saat kemarahan dan kecemburuan itu melukai hati.
Entah bagaimana kesabaranku untuk kebatuanmu teramat besar. Kasih sayang tak berkurang sedikit pun, saat kemarahan dan kecemburuan itu melukai hati.
Berulangkali kau lukai diri sendiri kala ku ucap
perpisahan.
Namun sungguh sebenarnya tak ingin. Perjuanganmu akan kita, perjuanganku akan kita sungguh bukan hal mudah. Lika liku cinta kasih yang tajam, membuatku kembali dalam pelukmu.
Namun sungguh sebenarnya tak ingin. Perjuanganmu akan kita, perjuanganku akan kita sungguh bukan hal mudah. Lika liku cinta kasih yang tajam, membuatku kembali dalam pelukmu.
Yang ku ingat kala itu, anugerah rasa dari Tuhan yang
diberikan untukmu, pernah terasa begitu besar.
Menggerogoti egoku sendiri. Rindu demi rindu, tangis demi tangis, ku lalui, kita lalui. Jarak yang begitu kejamnya kita lalui dari awal memadu kasih hingga saat itu tiba.
Menggerogoti egoku sendiri. Rindu demi rindu, tangis demi tangis, ku lalui, kita lalui. Jarak yang begitu kejamnya kita lalui dari awal memadu kasih hingga saat itu tiba.
Saat dimana lelahku akan dirimu, pesimisku akan kita,
semua telah berada pada puncaknya.
-Pena
Biru-
Kudus, 20 Februari 2016
Kudus, 20 Februari 2016
Komentar
Posting Komentar