Maaf #2



 
          Gemetar rasanya...
Ketika ku tuliskan penyesalanku padamu. Tanpa pernah bertanya keadaanmu, aku dan bayangku mencoba menghilang. Menghapuskanmu dari ingatan.
          Baru aku tahu betapa besar dan betapa sulitnya kau lepaskanku. Meski tak sedikit pun ku kembali memikirkanmu. Aku pergi dengan ketidak pedulian akan engkau. Benar-benar semua tlah usai. Aku berada dipuncak kemarahan, kesakitan, dan kesabaran. Seluruh kesabaranku untukmu sudah pada masanya. Masanya telah habis...
          Awal melepasmu pun sulit bagiku. Semua, segala apa yang ku lakukan mengingatkanku pada sosokmu. Sosok yang selama itu bergantung pada semangat yang ku sulut. Sosok yang selalu melakukan hal bodoh ketika ia tahu hati ini merasa dikecewakan. Tak sampai hati ku lepasmu. Namun ini adalah tekad. Ini adalah pilihan.
          Apakah kau tahu, ketika baru beberapa bulan perpisahan, ku lihat di media sosial kau bermesraan dengan yang lain, kemudian ku menangis? Ya, menangisimu. Hal itu yang menguatkan tekadku pergi sejauh mungkin.
          Kini yang kusadari, aku pernah berdosa. Meninggalkan tanpa sedikitpun memberi kesempatan berteman. Pikirku, semakin ada pertemanan, kau takkan benar-benar melepasku.
          Bukan ku ingin kembali, ku hanya sesali. Telah menyakiti hati yang raganya terpuruk. Bahkan ketika ku tlah miliki cinta lain.
          Maaf... hanya itu yang dapat ku ucap. Demi apapun ku berterima kasih pada Tuhan telah menyadarkan. Bahwa disana ada yang pernah tersakiti karena aku, karna kepergianku.


-Pena Biru-
Kudus, 20 Februari 2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berat Rasa

Aku Menulis Seperti Angin Berhembus Di Telinga

Kosong