1 bulan setelah perdebatan itu mereka kembali bertemu dan masih membahas masalah yang sama P : "bagaimana dengan temanmu itu? kalian semakin intensif berkomunikasi dan bertemu kan? sampai-sampai teleponku jarang kau angkat. pesanku yang kau balaspun sesingkat itu" L : "entah apa yang ada di otakku akhir-akhir ini, aku sering mengesampingkanmu dengan semua urusanku" P : "urusanmu termasuk dengan temanmu itu?" L : "aku mohon, jangan kau berpikiran negatif seperti ini, aku lelah mendengarnya" P : "apa kau juga lelah dengan cerita kita? yang kau sendiri pernah berkata bahwa hubungankita ini limited, tak semua orang dapat mejalaninya. tapi kenyataannya? kau tak hanya meneteskan tinta hitam, tapi kau sengaja melumurinya dengan tinta itu" |L : "aku tak memiliki hubungan spesial apapun dengannya. kami hanya intensif berkomunikasi. memang aku akui, komunikasi yang kami lakukan lebih intensif ketimbang komunikasiku denganmu"...
terduduk menatap hamparan pasir putih tertiup hembus kenangan rapih katanya, "akan selalu ada ruang khusus bagi masa lalu" dan ya, bagaimana pun, sepatah apa pun, meski telah berlalu, kisahnya singgah selalu seperti kisah yang ada di novel rindu seperti sajak yang ada di puisi sendu kini, lukanya sembuh kisah yang sendu, akan selalu menjadi inspirasi baru -Pena Biru-
Sunyi, hampa, debu menerpa dari segala penjuru Di sudut, berandai sebuah tolong Hasil pergulatan kepala yang penuh mau, dengan hati yang kosong melompong Begini begitu rasanya beradu Tak mudah menerka apa yang dimau Lagi-lagi kosong, tengah lemah tak tahu arah, kemana
Komentar
Posting Komentar