Surat Untuk Februari

Untuk aku perempuan melankolis...

Seperti laut tengah bercakap denganmu panjang kali lebar. Menerima cerita tangis tawa penuh debar. Emosimu kau tumpah ruahkan pada debur ombak, seakan menelan seluruh kepahitan akan kenangan. Berkali-kali angin berbisik, bahwa ketika kau siap jatuh hati harus siap pula patah hati.

Sedikit banyak kau mengerti, mengapa ada patah hati setelah jatuh hati. Diluar sana begitu banyak hati yang patah, namun memilih untuk tetap setia disisi. Ada pula yang patah berulang kali, kemudian memilih pergi. Bahwasanya perasaan manusia itu fitrah, anugerah Tuhan. Tinggal bagaimana kita pintar mengatur naik turunnya perasaan.

Ketika kau tak menghargai dirimu sendiri, lalu pada siapa harga itu kau harap temui? Untungnya perempuan ini diberi petunjuk olehNya untuk pergi, kembali menghargai diri sendiri karena orang yang ia hargai tak kunjung pahami.

Begitu banyak rindu diredam. Hingga rongga dada sesak, penuh rindu yang menghujam. Berulang kali patah, berulang kali bertahan. Tapi apa yang kau dapatkan? Kesakitan lebih dan lebih yang terus datang tak beraturan. Itu tak lagi sehat, butuh sejenak kau rehat. Sudahi patahmu, cari tawamu.

Tuhan begitu baik memberikan laut sebagai kawan dan tempat sujud dalam tangis, baik itu bahagia atau sedih sekedarnya. Bagi perempuan melankolis, Tuhan selalu baik membawanya kembali pada jalan Illahi. Sejatinya, Ia tengah menyelamatkanmu dari tajamnya lidah seorang lelaki dan pedihnya api di akhirat nanti.

Tetaplah menjadi kuat meski rindu menghujam begitu kuat. Ingatlah bahwa kini kau tengah menempuh jalan taat. Kembali mengeluh, menangis, bahagia pada Sang Pemberi Rahmat. Tak peduli bagaimana kau dihujat.

-PenaBiru-

#EigerAdventure #PecanduBuku #SuratUntukFebruari2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berat Rasa

Aku Menulis Seperti Angin Berhembus Di Telinga

Kosong