Tuan Februari

Kamu, apakah kamu merindukan tulisanku? Tulisan yang suka dukanya berisikan kamu.

Kamu, apakah kamu merindukan suaraku? Suara yang memanaskan telingamu, terang hingga petang.

Kamu, apakah kamu merindukan lembut sentuhanku? Sentuhan yang begitu sayangnya kepadamu.

Kamu, mengapa mudah sekali berpaling dari apa yang pernah kamu katakan? Berpaling, berbalik 180 derajat.

Kamu, mengapa dengan mudahnya bermanis dan bercanda dengan perempuan lain? Padahal mata kepalamu tahu, perempuanmu terbakar api cemburu.

Kamu, mengapa dengan mudahnya mengabaikan segala yang kamu janjikan? Janji yang tak seberapa bagimu, namun begitu besar bagi seluruh wanita dengan segala kasih sayangnya.

Kamu, pergilah bila masih ingin berkelana. Sejauh mungkin hingga tak lagi terlihat hati dan bola mataku.

Kamu, pergilah bersama rasa yang tak seberapa. Biar aku menelan kepahitan dan sementara dalam bayang kenangan.



14 Februari 2018
-PenaBiru-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berat Rasa

Aku Menulis Seperti Angin Berhembus Di Telinga

Kosong