Sunyi, hampa, debu menerpa dari segala penjuru Di sudut, berandai sebuah tolong Hasil pergulatan kepala yang penuh mau, dengan hati yang kosong melompong Begini begitu rasanya beradu Tak mudah menerka apa yang dimau Lagi-lagi kosong, tengah lemah tak tahu arah, kemana
terduduk menatap hamparan pasir putih tertiup hembus kenangan rapih katanya, "akan selalu ada ruang khusus bagi masa lalu" dan ya, bagaimana pun, sepatah apa pun, meski telah berlalu, kisahnya singgah selalu seperti kisah yang ada di novel rindu seperti sajak yang ada di puisi sendu kini, lukanya sembuh kisah yang sendu, akan selalu menjadi inspirasi baru -Pena Biru-
Kulihat uap di secangkir kopi Ternyata, bukan kopi, hanya janji-janji Kasih lebur bersama waktu Membuang apa-apa tentang lalu Bahkan sepotong bolu hitam; yang tak punya rasa Sejauh-jauhnya kujauhkan dari pandangan mata Lambat laun, melupa seperti apa rasa Setelah kucoba, tidak lagi menggugah selera Tak perlu lagi bersalah Kini baik-baik saja karena jengah Waktu memberi hidup baru Sudah bukan kamu melulu -Pena Biru- 30 Agustus 2025
Komentar
Posting Komentar