Temu Terakhir


Sejak saat itu, setiap kali Tuhan membangunkanku dari malam panjang, aku menangis dengan mata terpejam.

Waktu untuk terus menatap matamu semakin berkurang, hampir habis. Ketakutan demi ketakutan harus kutelan.

Rasanya seberapapun banyak tabungan untuk rinduku kelak, takkan cukup. Rinduku selalu haus tentangmu.

Memeluk, mencium, dan semua yang terbiasa kulakukan untukmu terasa begitu berat dilakukan.

Karena semua adalah misteri, entah jalan Tuhan yang bagaimana dan entah kapan kita akan kembali dipertemukan.

Mungkin kita hanya perlu saling meyakinkan.

Semoga kita benar-benar saling membenahi, semoga kita benar-benar akan kembali, nanti...


27 November 2017
-Pena Biru-









Tulisan itu, ditulis persis setelah perpisahan. Ingat betul, ketika kalimat akhirku adalah sebuah pengharapan yang muncul karenamu. Selang satu tahun, teramat tegar aku menulisnya di halaman pribadiku. Karena, rasanya telah beda, telah usai.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berat Rasa

Aku Menulis Seperti Angin Berhembus Di Telinga

Kosong