Tentangnya yang Telah Tiada
2010
Kerap kali dipertanyakan hubungan kami, benar sahabat atau kekasih? Berulang kali pula kami kompak dengan jawaban, tidak. Hingga pada suatu saat, perbincangan itu terjadi. Mengapa tak menjalin kasih sebagai sepasang? Mengulik mendalam mencari jawab, sampai pada satu titik pikirannya berkata, "Kalau kita sepasang kekasih, kemana harus ku bercerita bila kita bermasalah? Selama ini tempat berkeluh kesah satu sama lain adalah satu sama lain."
Aku pun tak ingin hubungan yang telah seperti saudara ini berubah, bila kami telah tak sejalan pada kisah sepasang. Karena ia adalah laki-laki yang dapat diandalkan disegala macam cuaca hati dan keadaaan. Momen demi momen, tingkatan fase dalam kehidupan, kami lewati bersama dengan saling menjaga. Terlalu manis untuk berubah menjadi musuh atau hanya sekedar patah hati karena berakhirnya kisah kasih sepasang. Itulah yang kami pikirkan dan kami bayangkan. Kami tidak ingin kehilangan satu sama lain, sungguh perasaan yang timbul tanpa ikatan darah.
2016
Ia datang ke Kota Pelajar, dengan harapan berhasil melalui fase pendewasaan selanjutnya, mendapatkan pekerjaan. Tak banyak waktu yang ia miliki sebelum ujian, namun ia meluangkan waktu untuk sekedar bertemu aku. Jarak yang ia tempuh dari tempatnya ke tempatku tidaklah dekat. Kala itu ia sampai pukul 22.00 lalu memaksaku keluar. Kami pergi untuk saling melepas rindu, bercerita tentang apa-apa yang kami lewatkan masing-masing. Satu setengah jam, tak cukup lama namun cukup menjadi pelepas rindu. Diakhir percakapan, ia berkata, "Pacaran saja yuk" si Bodoh ini mengabaikan kekasih hati yang menunggunya. Entahlah, disitu jantungku berdegup, coba bayangkan, hati ingin namun logika tidak. Dengan pertimbangan seperti yang pernah kita pikirkan.
Si Bodoh hanya candaan mungkin, lalu kutolak seperti biasa dengan mendaratkan tanganku ke kepala dengan otak yang bekerja 30% itu. Percakapan berakhir dengan ia berusaha kembali mencairkan suasana. Kemudian ia berpamitan, memegang tanganku lalu mengusap kepalaku. Saling menyemangati dan menertawai adalah 2 hal yang tidak lepas dari kami. Kulihat ia diujung jalan, dengan lampu redup yang menemaninya.
2017
Si Bodoh datang menjemput pada malam tahun baru 2018. Dengan hati yang patah, aku pergi minta ditenangkan. Ia menawariku apapun yang kumau akan terkabul asalkan berhenti menangis. Benar saja, apapun itu, dari makanan, berkeliling jalanan yang padat merayap, hingga berhenti duduk menangis untuk terakhir kali karena patah hati. Kusandarkan kepala ke bahunya, kupeluk seerat-eratnya dan menanis sejadinya. Maaf, bajunya jadi basah karena kelakuan bodohku.
Terhibur sudah, sambutan bagi tahun yang baru.
2018
Aku bekerja kembali ke kota orang. Ia selalu menelfon, bertanya kabar atau sekedar mengirim pesan singkat hanya ingin tahu kabarku. Kami tak berkabar setiap hari, tapi selalu ada setiap satu sama lain menghubungi. Bahkan, ia mau membelikanku pulsa karena mendesak paket data habis, pulsaku hanya cukup untuk 3 kali mengirim pesan singkat. Padahal motornya sedang dipinjam teman. Katanya, berjalan ke ujung gang demi agar aku tidak kesusahan di dalam bus perjalanan pulang.
Tak pernah terbesit olehku untuk menjadikannya pasangan hidup. Namun tetap aku tak mau kehilangan sosoknya dalam hidup.
2019
Momen lebaran tahun itu ternyata menjadi perjanjian temu kami yang terakhir. Ia menelfonku di stasiun ketika hendak pergi ke kota tempat kekasihnya berada. Ditelfon, ia berjanji akan menemuiku sepulangnya dari sana. Aku pun mengiyakan janjinya. Yang selalu kuingat adalah ia tak henti memujiku cantik, kapan pun. Setiap apa pun perubahan yang kulalui dalam fase hidup. Ketika aku bernyanyi, mulai berhijab, mulai hijrah, hingga panggilan video terakhir itu pun ia mengatakan aku cantik. Saat itu seperti biasa, aku hanya menganggapnya gombal seperti laki-laki lain, atau malah meledekku.
Hingga 2 minggu setelahnya aku mendapat kabar ia kecelakaan. Patah hatiku, untuk kedua kalinya aku menangis karena ia kecelakaan. Dulu ketika SMP ia mengalami kecelakaan pun entah mengapa aku menangis.
Ternyata, luka yang ia alami sangat parah. Tak kuasa aku melihat gambar yang dikirim oleh sahabatku yang lain. Dengan posisiku yang tidak dapat menyusulnya, semakin membuatku stres. Setiap menit aku selalu meminta kabar terbaru Si Bodoh dari temanku. Setiap malam kumenangisi, kudoakan agar Allah memberinya kesembuhan, menghilangkan rasa sakitnya.
Memang benar, Allah menghilangkan rasa sakitnya untuk selamanya. Si Bodoh pergi untuk selama-lamanya tanpa temu, sapa dan tawa terakhir bersama. Lemas kudengar kabar dari temanku. Tak lama ibuku menelfon, sedetik kuangkat telfonnya, ibuku menangis sejadinya karena beliau tahu kabar Si Bodoh sudah pergi. Hampir pingsan itu yang kurasa, hingga tak ada tenaga untukku pulang selepas kerja.
Aku kehilangan belahan jiwaku, saudaraku, kakak, kekasih, kawan, Si Bodoh untuk selamanya. Dengan hati yang hancur, sehancur hancurnya. Runtuh sadarku, hanya tangis terus menerus. Sesal berkecamuk di kepalaku. Mengapa aku sebagai sahabat tidak ada di sampingnya? Kala ia berjuang, kala ia sedang teramat sakit.
Semakin hancur dan gila, ketika hingga saat ini aku belum mampu menyapa tempat peristirahatannya. Tapi aku yakin ia disana tahu, aku selalu mengingatnya, dalam doa, dalam hari-hariku, dalam setiap pencapaianku, selalu ada dia di dalamnya.
Tulisan ini kupersembahkan untuknya, Hanif Adam Alfinu'man yang setiap kuingat dirinya, hanya air mata yang terasa. Aku berdoa pada Allah, agar kami dikumpulkan kembali di SurgaNya nanti. Saling melepas rindu, saling mencintai dan menyayangi dalam kekal.
*Tambahan momen : Adam pernah menjemputku di rumah hanya untuk mengantarku ke tempat bus yang sebenarnya jarak tempat bus dengan rumahnya lebih dekat ketimbang harus bolak-balik mengantar-jemputku. Ia melakukannya hanya demi bertemu. Karena kala itu kami belum sampat bertemu dan ia telah berjanji untuk menjumpaiku. Saat aku telah berhijrah dengan jilbab panjang, Adam juga selalu menolak jika aku ingin silaturahmi dengan Ibunya. Katanya, ia takut jika Ayah dan Ibunya malah merestui kami :D dasar
Pena Biru
-25 Mei 2021-
Komentar
Posting Komentar