Surat Untuk Sahabat
Tulisan ini "appreciation post" untuk sahabat-sahabatku.
Untuk kalian dimana pun, apa yang sedang kalian kerjakan, rencanakan dan doakan semoga Tuhan memberikan jalan.
Terima kasih, untuk kalian yang selalu ada, ketika aku benar-benar jatuh, mendatangi tanpa bertanya, hanya menghibur. Terima kasih, kalian selalu ada, suka maupun duka.
Terima kasih, karena telah rela atau terpaksa mendengarkan aku yang tengah patah pada kisah. Meski tokoh utamaku tidak berganti, kalian silih berganti menghibur, mendengar bahkan memarahi untuk menasehati.
Terima kasih, untuk kalian yang terus berada di dekatku, menyemangati untukku dapat memberi bukti pada mereka yang menyakiti. Terima kasih selama empat tahun mendengar kisah patah yang sama, tokoh yang sama dan tangis yang sama.
Terima kasih karena selalu membanggakanku di depan teman-teman kalian, meski sedikit yang kulakukan. Terima kasih karena menyayangiku tanpa karena. Kepedulian, kekompakan, kesenangan, kesedihan, kelelahan, semua terbagi merata.
Ternyata, kunci setiap hubungan adalah saling. Saling memahami satu sama lain, saling memaklumi, saling menyayangi, saling mencintai, saling membenci, saling membanggakan, saling mensyukuri, saling membantu (dikala sulit keuangan pasti) dan masih banyak lagi saling yang telah kita jalani.
Terima kasih untuk kamu (siapa pun) yang membanggakanku di depan atau di belakangku. Memberiku semangat bangkit, membuka hati kembali, berdamai dengan patah hati yang paling patah.
Maaf jika aku masih sulit berdamai, karena tidak tahu cara membencinya. Mungkin benci dapat mempermudah hati berdamai dengan keadaan, kala itu. Tapi sayang, nihil, tak ada alasan untuk membenci meski terasa tersakiti.
Maaf jika aku sulit menerima saran, maaf jika aku selalu manja dengan kalian. Entah bagaimana kalian selalu menerima manja itu. Manusia si paling tidak ingin sendiri ini akan meneror ketika ia sedang merasa sepi. Dia egois, ketika ingin sendiri, tanpa pamit langsung berada di tempat terjauh agar tak mudah dijangkau.
Sampai saat ini, yang masih kuherankan adalah sesabar itu kalian menghadapiku. Bocah yang dengan mudah berapi namun mudah juga mencair. Selalu mengeluh, selalu mengingat yang lalu.
Ketika aku berkata "tidak bisa" kalian meyakinkan seyakin-yakinnya bahwa aku bisa. Ketika aku berkata "kasihan" kalian semarah-marahnya berkata "jangan".
Aku adalah manusia terbangga dapat dicintai kalian. Seakan acuh tapi selalu merengkuh. Seakan malas tapi selalu berbelas. Aku bangga memiliki kalian sebagai sahabat. Semoga kita semua sampai surga. Aamiin...
-Pena Biru-
Komentar
Posting Komentar